Robbie Savage Resmi Jadi Manajer Peterborough United

Robbie Savage resmi ditunjuk sebagai manajer baru Peterborough United. Pelatih berusia 51 tahun itu meninggalkan Forest Green Rovers untuk mengisi kursi yang ditinggalkan Luke Williams, yang dipecat pada 19 September lalu. Penunjukan Robbie Savage diumumkan klub saat Peterborough tengah terpuruk di posisi ke-23 klasemen League One, atau tepat satu tingkat di atas dasar klasemen dari total 24 tim.

Kedatangan Savage menandai babak baru bagi Posh, julukan Peterborough, yang selama dua tahun terakhir terkesan berjalan di tempat. Ia meneken kontrak yang oleh pihak klub disebut sebagai kontrak jangka panjang. Laga debutnya akan berlangsung cepat, yakni saat Peterborough menjamu tim bawah Ipswich Town Under-21 di ajang Jersey Mike’s Trophy pada 6 Oktober, sebelum kembali berlaga di kompetisi liga dengan bertandang ke bekas klubnya, Leicester City, pada 10 Oktober.

Robbie Savage

Rekam Jejak Robbie Savage dari Macclesfield hingga Forest Green Rovers

Savage bukan nama baru di dunia sepak bola Inggris, meski reputasinya lebih dulu terbangun sebagai pemain dibanding sebagai pelatih. Semasa aktif, ia berposisi sebagai gelandang dan memperkuat sejumlah klub ternama, termasuk Derby County, Birmingham City, Leicester City, serta Blackburn Rovers. Ia juga tercatat pernah memperkuat tim nasional Wales.

Kiprahnya sebagai juru taktik dimulai dari level non-liga bersama Macclesfield. Dari sana ia direkrut Forest Green Rovers pada Juli tahun lalu. Pada musim pertamanya, Savage membawa Forest Green finis di posisi ketujuh National League, tetapi langkah mereka terhenti lewat babak eliminator play-off. Capaian itu menunjukkan ia mampu membawa tim bersaing di papan atas meski belum berbuah promosi.

Memasuki musim ini, Forest Green berada di peringkat ke-13 setelah 11 pertandingan, dengan rincian empat kemenangan, tiga hasil imbang, dan empat kekalahan. Statistik tersebut menggambarkan performa yang naik-turun dan belum sepenuhnya stabil. Bagi Peterborough, catatan ini menjadi modal sekaligus tanda tanya besar.

Kronologi Pemecatan Luke Williams dan Kondisi Peterborough United

Kekosongan kursi pelatih di Weston Homes Stadium lahir dari awal musim yang buruk. Manajemen Peterborough memutuskan mengakhiri kerja sama dengan Luke Williams pada 19 September setelah rangkaian hasil negatif membuat tim terpuruk di peringkat ke-23 League One. Posisi itu menempatkan Posh dalam ancaman serius untuk terdegradasi jika tidak segera dibenahi.

Masalah utama terletak pada ketajaman lini depan. Sepanjang musim ini, Peterborough baru mencetak empat gol di kompetisi liga. Angka tersebut terbilang sangat minim dan menjelaskan mengapa tim kesulitan mengumpulkan poin.

Persoalan tidak berhenti di situ. Peterborough hanya mampu memenangi dua dari 23 pertandingan liga terakhir mereka, sebuah rentetan yang membentang sejak musim sebelumnya. Sejumlah pemain kunci telah dijual, sementara para pengganti yang didatangkan pada bursa transfer musim panas belum mampu meyakinkan banyak pihak.

Gaya Bermain dan Janji Savage untuk Suporter Posh

Savage mengaku tertarik menerima tawaran Peterborough karena beberapa alasan yang ia sebut penting. Kepada situs resmi klub, ia menyebut besarnya nama klub, filosofi yang dianut, serta kesempatan bekerja dengan pemain muda dan membuat mereka berkembang sebagai faktor utama. Ia juga mengaku tidak sabar untuk segera turun ke lapangan latihan.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa dirinya adalah tipe manajer yang hadir di setiap sesi latihan. Savage percaya pada peran para asisten dalam menyampaikan materi dan memimpin sesi, sementara ia bertanggung jawab penuh atas arah tim. Menurutnya, kepercayaan kepada staf kepelatihan adalah bagian penting dari cara kerjanya.

Soal gaya permainan, Savage memberi gambaran yang cukup gamblang. Ia menolak timnya hanya menguasai bola di lini belakang dan mengumpulkan ratusan umpan setiap pertandingan tanpa arah yang jelas. Ia ingin Peterborough tampil menyerang, dan bila skor imbang 1-1 di kandang dengan lima menit tersisa, ia berharap para pemain tetap mengejar gol kemenangan.

Savage juga menyadari bahwa tidak semua pihak menyambut kedatangannya dengan antusias. Ia memahami bahwa dunia modern dan media sosial membuat setiap keputusan mudah menuai keraguan. Namun, ia berjanji akan berdiri di pinggir lapangan untuk melindungi para pemainnya dan menyebut skuad yang ia warisi sebagai skuad yang brilian. Mantan pelatih sementara, Ryan Harley, akan menjadi asistennya.

Sambutan Manajemen dan Sosok Darragh MacAnthony

Ketua klub Peterborough United, Darragh MacAnthony, menyambut penunjukan ini dengan nada antusias. Ia menyebut kata “kegembiraan” sebagai ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan kedatangan Savage, sekaligus mengakui bahwa kata itu sudah lama tidak ia gunakan untuk klubnya sendiri. Menurutnya, kepribadian, karakter, dan pola pikir Savage adalah hal yang dibutuhkan klub dari atas sampai bawah.

MacAnthony menegaskan bahwa tidak akan ada orang yang bekerja lebih keras daripada Savage untuk membangkitkan kembali Peterborough. Dewan klub, menurutnya, terkesan dengan penampilan Savage dalam sesi wawancara yang berlangsung panjang. Yang paling membuat MacAnthony bersemangat adalah rasa lapar Savage untuk membenahi persoalan tim dan mengembalikan kepercayaan diri skuad yang ia nilai bertalenta.

Kepemilikan MacAnthony dikenal sangat aktif dan kerap terlibat langsung dalam urusan teknis klub. Faktor ini menjadi salah satu hal yang paling banyak disorot pengamat ketika menilai peluang Savage. Bagaimana keduanya akan membagi peran dan menjaga komunikasi menjadi ujian tersendiri dalam beberapa bulan ke depan.

Tantangan Berat dan Analisis Peluang Savage di London Road

Dari sudut pandang pengamat, penunjukan Savage termasuk keputusan yang sangat mengejutkan. Rekam jejak kepelatihannya terbilang sederhana untuk ukuran League One. Selain itu, muncul tanda tanya soal kemampuannya beradaptasi dengan gaya kepemilikan MacAnthony yang terkenal turun tangan langsung.

Meski demikian, ada pula argumen yang melihat sosok Savage sebagai kejutan yang justru dibutuhkan Peterborough. Setelah dua tahun tanpa kemajuan berarti, gebrakan di luar dugaan bisa menjadi cara untuk memecah kebuntuan. Tim yang ia warisi kini berada di posisi kedua dari bawah klasemen dan jelas membutuhkan perubahan cepat, baik dari sisi taktik maupun mental bertanding.

Tekanan waktu menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Keamanan posisi pelatih di Peterborough belakangan ini sangat sulit dipertahankan, kecuali bagi Darren Ferguson yang menjadi pengecualian. Luke Williams hanya bertahan sembilan bulan, Grant McCann bertahan kurang lebih sama, dan Steve Evans bertahan hingga 10 bulan. Dengan pola seperti itu, Savage harus mampu menunjukkan hasil dalam waktu singkat.

Selain tugas kepelatihan, Savage tetap akan menjalani perannya sebagai salah satu pembawa acara program phone-in sepak bola 606 di BBC Radio 5 Live. Ia dijadwalkan mengudara pada edisi Minggu pukul 18.30 BST. Peran ganda ini menarik untuk dicermati, karena menuntut kemampuan membagi fokus antara pekerjaan media dan tanggung jawab harian sebagai manajer klub.

Jadwal Debut dan Langkah Berikutnya

Agenda pertama Savage bersama Peterborough adalah laga melawan Ipswich Town Under-21 di Jersey Mike’s Trophy pada 6 Oktober. Pertandingan ini memberi kesempatan bagi dirinya untuk melihat langsung kondisi pemain sebelum menghadapi kompetisi yang sesungguhnya. Meski bersifat kompetisi pinggiran, laga tersebut bisa menjadi ajang uji coba taktik dan pendekatan komunikasi dengan skuad.

Empat hari kemudian, tepatnya 10 Oktober, Peterborough akan bertandang ke markas Leicester City di ajang liga. Laga ini terasa istimewa bagi Savage karena Leicester adalah salah satu klub yang pernah ia bela sebagai pemain. Bersua mantan klubnya di awal kepemimpinan tentu menambah beban sekaligus motivasi bagi karier barunya.

Hasil dari dua pertandingan awal itu akan menjadi indikator awal seberapa cepat Savage mampu menerjemahkan ide bermainnya ke dalam performa nyata. Dengan posisi tim yang masih di zona rawan, setiap poin menjadi sangat berarti.

Kesimpulan

Penunjukan Robbie Savage sebagai manajer Peterborough United menjadi salah satu keputusan paling mengejutkan di League One musim ini. Ia datang membawa modal pengalaman sebagai pemain top dan rekam jejak kepelatihan yang masih sederhana, dengan tugas besar mengangkat tim dari peringkat ke-23. Tantangan utamanya adalah menambal lini depan yang hanya mencetak empat gol di liga serta membalikkan tren buruk yang sudah berjalan sejak musim lalu.

Yang jelas, perjalanan Savage bersama Peterborough tampaknya tidak akan membosankan. Berbekal kontrak jangka panjang, dukungan manajemen, dan janji permainan menyerang, ia kini harus membuktikan bahwa gebrakan ini benar-benar tepat bagi Posh. Debut melawan Ipswich Town Under-21 dan lawatan ke Leicester City akan menjadi ujian pertamanya.