Mauricio Pochettino resmi menyetujui perpanjangan kontrak pelatih timnas AS hingga 2030. Kesepakatan ini diumumkan oleh US Soccer pada 8 Juni dan memastikan pelatih asal Argentina itu tetap memimpin tim nasional pria Amerika Serikat untuk jangka panjang. Pochettino, yang sebelumnya menangani Tottenham Hotspur dan Chelsea, sudah berada di kursi pelatih sejak September 2024.
Perpanjangan kontrak ini bukan sekadar perpanjangan masa bakti biasa. US Soccer memberikan mandat yang lebih luas kepada Pochettino dan stafnya untuk ikut membangun sepak bola AS dari akar rumput. Kepercayaan itu muncul setelah Pochettino membawa tim tuan rumah bersama AS lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 sebelum akhirnya tersingkir oleh Belgia.

Perpanjangan Kontrak Pelatih Timnas AS: Peran yang Lebih Luas
Dalam peran barunya, Pochettino tidak hanya akan duduk di bangku cadangan tim senior. US Soccer menyatakan bahwa kesepakatan baru ini mencakup tanggung jawab yang lebih besar bagi Pochettino dan staf pelatihnya. Mereka akan diminta memberi nasihat serta dukungan untuk pengembangan jalur tim nasional secara menyeluruh.
Ruang lingkup kerja itu meliputi sepak bola usia muda, pendidikan pelatih, kolaborasi dengan liga profesional, dan berbagai aspek teknis lainnya. Dengan kata lain, pengaruh Pochettino akan terasa jauh melampaui hasil pertandingan tim utama. Ini sejalan dengan pernyataan pelatih asal Argentina itu yang ingin meninggalkan dampak jangka panjang bagi sepak bola Amerika Serikat.
“Bekerja sama dengan US Soccer selama dua tahun terakhir membuat kami sadar bahwa ada potensi luar biasa untuk membuat program timnas pria semakin kuat,” kata Pochettino. “Kami antusias membawa seluruh pengalaman dan pengetahuan kami ke lebih banyak area US Soccer, sekaligus membantu memperkuat jalur bagi pemain, pelatih, dan tim di seluruh federasi.” “Kami ingin memberikan dampak yang bertahan lama pada olahraga di negara yang telah menyambut kami dengan hangat, dan dampak itu harus melampaui hasil di lapangan.”
Kiprah Pochettino di Piala Dunia 2026
Pochettino memimpin timnas AS tampil sebagai tuan rumah bersama Piala Dunia 2026. Pada fase grup, pasukannya finis di puncak klasemen berkat kemenangan atas Paraguay dan Australia. Pencapaian itu menjadi modal berharga sebelum memasuki babak gugur.
Di babak 32 besar, AS menang 2-0 atas Bosnia-Herzegovina. Namun langkah mereka terhenti di babak 16 besar setelah kalah telak 4-1 dari Belgia. Meski tersingkir, performa yang ditunjukkan cukup menjadi dasar bagi US Soccer untuk terus mempercayai proyek Pochettino.
Kontroversi Folarin Balogun dan Intervensi Presiden Trump
Salah satu momen yang mewarnai perjalanan AS di Piala Dunia 2026 adalah kartu merah yang diterima striker Folarin Balogun saat melawan Bosnia-Herzegovina. Keputusan itu sempat menjadi sorotan karena Balogun berpotensi dijatuhi sanksi larangan bermain. Namun, ia akhirnya terbebas dari hukuman setelah adanya intervensi dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Momen ini menjadi salah satu isu yang paling banyak dibicarakan dalam perjalanan AS di Piala Dunia 2026. Pasalnya, keputusan disiplin di turnamen biasanya murni ditangani oleh otoritas sepak bola. Intervensi dari Presiden Trump membuat kasus ini berbeda dari kebanyakan kasus kartu merah lainnya.
Apresiasi Presiden US Soccer terhadap Budaya yang Dibangun Pochettino
Presiden US Soccer, Cindy Parlow Cone, memberikan apresiasi tinggi terhadap kerja Pochettino. Menurutnya, Pochettino berhasil membangun budaya di mana para pemain percaya pada kelompok, proses, dan satu sama lain. Kepercayaan itu terlihat jelas dalam cara tim tumbuh dan tampil di panggung terbesar dunia.
“Budaya itu dan staf yang membantu membangunnya adalah hal yang ingin terus kami investasikan untuk tim nasional pria, sekarang dan di masa depan,” ujar Cone. Investasi ini menunjukkan bahwa US Soccer melihat nilai jangka panjang dalam kepemimpinan Pochettino. Ini menjadi alasan utama mengapa kontraknya diperpanjang hingga 2030.
Dampak dan Langkah Selanjutnya bagi Sepak Bola Amerika
Perpanjangan kontrak pelatih timnas AS ini memberi sinyal bahwa US Soccer ingin membangun kesinambungan dalam jangka panjang. Alih-alih hanya mengejar hasil instan, federasi memilih mempercayakan proses pengembangan kepada Pochettino. Dengan cakupan peran yang lebih luas, pelatih asal Argentina itu bisa menyentuh banyak aspek sepak bola AS sekaligus.
Ini juga menjadi modal penting menjelang era setelah Piala Dunia 2026. Pochettino akan memiliki waktu untuk merancang generasi berikutnya, mulai dari pemain muda hingga pelatih lokal. Jika berhasil, proyek ini bisa mengubah wajah sepak bola Amerika Serikat dalam beberapa tahun ke depan.
Tentu saja, tantangan tetap ada. Pochettino harus membagi perhatian antara kewajiban tim senior dan tanggung jawab teknis yang lebih luas. Meski begitu, komitmen hingga 2030 menunjukkan keseriusan kedua pihak untuk menjalani proses tersebut bersama-sama.
Pada intinya, kesepakatan baru ini mengukuhkan Pochettino sebagai sosok sentral dalam proyek sepak bola Amerika Serikat hingga 2030. Ia tidak hanya bertugas membawa timnas berprestasi di turnamen besar, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan sepak bola dari tingkat akar rumput. Kepercayaan penuh dari US Soccer diberikan setelah perjalanannya membawa AS melaju hingga babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Dengan mandat yang lebih besar, Pochettino kini menghadapi pekerjaan yang jauh lebih kompleks. Publik sepak bola Amerika akan menantikan bagaimana ia menerjemahkan rencana besar tersebut menjadi hasil nyata. Satu hal yang pasti: komitmen ini dirancang untuk membangun warisan, bukan sekadar memenuhi target jangka pendek.