Siapa Pengganti Harry Kane di Lini Depan Timnas Inggris?

Pertanyaan soal siapa pengganti Harry Kane di Timnas Inggris kembali mencuat setelah sang kapten menorehkan catatan baru. Penyerang Bayern Munich itu mencetak dua gol dalam kemenangan 3-0 atas Ceko di Wembley, sekaligus menyamai rekor sebagai pemain dengan penampilan terbanyak bagi Timnas Inggris. Tambahan dua gol tersebut membuat koleksinya kini mencapai 91 gol dari 125 caps bersama The Three Lions.

Pencapaian itu tidak bisa dipisahkan dari usia Kane yang sudah 33 tahun. Ketika Euro berikutnya bergulir pada musim panas 2028, ia akan berusia 35 tahun. Karena itu, siapa pun yang nantinya memimpin Inggris pasti mulai memikirkan opsi alternatif dan calon penggantinya. Pelatih Thomas Tuchel sendiri menyadari bahwa sosok seperti Kane tidak akan terulang, sehingga ia memilih mencari opsi dan solusi yang berbeda.

Harry Kane

Rekor Kane dan Alasan Inggris Mulai Berhitung

Kane tampil sebagai bintang dalam laga melawan Ceko. Dua golnya mengantar Inggris menang 3-0 di Wembley, dan dua gol itulah yang membawanya menyamai rekor penampilan terbanyak untuk negaranya. Angka 91 gol dalam 125 caps menempatkannya di posisi yang sangat sulit digantikan oleh pemain mana pun saat ini.

Performa Kane bersama Bayern Munich musim lalu juga menunjukkan bahwa ia sedang berada di puncak kariernya. Ia membantu klubnya meraih gelar ganda, yaitu juara liga dan piala, dengan sumbangan 61 gol dari 51 pertandingan sepanjang musim 2025-26. Namanya pun masuk daftar favorit perebutan Ballon d’Or.

Artinya, masalahnya bukan pada penurunan kualitas Kane saat ini, melainkan pada hitungan waktu. Kalender kompetisi menuntut Inggris bersiap jauh sebelum kehilangan sang penyerang utama, entah karena pensiun, cedera, atau skorsing. Dari sudut pandang itu, pencarian sosok pengganti menjadi proyek jangka panjang yang tidak bisa ditunda.

Jude Bellingham, Jawaban yang Sudah Ada di Depan Mata?

Tuchel tampaknya melihat bahwa Inggris mungkin tidak perlu mencari jauh-jauh. Nama Jude Bellingham muncul sebagai kandidat yang paling masuk akal untuk mengambil alih peran di lini depan. Menjelang kemenangan 7-0 atas Kroasia, Tuchel mengaku menyukai Bellingham saat ditempatkan sebagai penyerang tengah.

Menurut Tuchel, Bellingham adalah pencetak gol alami yang punya rasa lapar untuk muncul di papan skor. Ia selalu ingin berada di posisi yang menentukan, sehingga tidak ada perbedaan besar apakah ia bermain sebagai nomor sembilan atau nomor sepuluh. Perubahan peran itu dinilai telah membantu Bellingham menambah sisi produktif dalam permainannya.

Datanya cukup mendukung. Sejak awal Piala Dunia 2026, gelandang Real Madrid itu mencetak 10 gol dalam 12 pertandingan bersama Inggris, padahal sebelumnya ia hanya mencetak enam gol dalam 48 laga. Reporter sepak bola senior BBC Radio 5 Live, Ian Dennis, bahkan menilai pengganti Kane sudah muncul, yaitu Bellingham, dan ia yakin Bellingham akan melampaui jumlah penampilan Kane.

Di Real Madrid, Bellingham sempat sering dimainkan sebagai false nine pada musim pertamanya, dengan Vinicius Jr. dan Rodrygo memberi ancaman dari sisi sayap. Cara bermainnya mirip dengan kontribusi Kane untuk Inggris, yang kerap turun ke tengah sebagai playmaker lalu menerobos ke kotak penalti untuk menyelesaikan peluang. Jika Inggris ingin pemain yang bisa menjembatani peran nomor sembilan dan nomor sepuluh sekaligus, Bellingham bisa jadi opsi paling pas. Inggris juga punya banyak alternatif seperti Phil Foden, Cole Palmer, Morgan Gibbs-White, dan Eberechi Eze untuk mengisi peran yang ditinggalkan Bellingham bila ia dimajukan.

Meski begitu, tidak semua pihak setuju. Mantan kiper Inggris, Paul Robinson, menegaskan bahwa Bellingham bukan seorang nomor sembilan karena ia bermain dengan memanfaatkan pergerakan pemain lain. Robinson menilai, selama Kane masih punya banyak waktu bermain, ia tidak melihat Bellingham sebagai penyerang tengah murni.

Stok Penyerang Tengah Murni Inggris Sangat Terbatas

Jika yang dicari adalah pengganti alami di posisi penyerang tengah, Inggris tidak punya banyak pilihan. Dominic Calvert-Lewin menjadi salah satu nama yang mengajukan diri sebagai pelapis Kane dengan torehan 17 gol dari 40 penampilan di Premier League sejak pindah ke Leeds United pada musim panas lalu.

Namun, ada keraguan soal ketajamannya. Calvert-Lewin tercatat tampil di bawah ekspektasi gol sebesar 2,13 di Premier League musim lalu, dan pada usia 29 tahun ia bukan solusi jangka panjang untuk menggantikan Kane.

Di luar Calvert-Lewin, nyaris tidak ada penyerang tengah yang benar-benar menonjol. Satu-satunya penyerang Inggris lain yang mencetak gol di Premier League musim ini adalah Liam Delap dari Nottingham Forest, yang sedang membangun kembali kariernya setelah masa sulit di Chelsea, serta Chuba Akpom dari Ipswich Town. Keduanya baru mengoleksi satu gol.

Ada pula fakta menarik sepanjang musim 2026-27: bek kiri Inggris mencetak enam gol, lebih banyak daripada penyerang tengah Inggris yang hanya mengumpulkan lima gol. Danny Welbeck memang sempat mendorong pemanggilan kembali setelah mencetak 13 gol di Premier League musim lalu, tetapi usianya sudah 35 tahun dan jelas bukan solusi jangka panjang. Ivan Toney dan Ollie Watkins, yang sebelumnya dipertimbangkan Tuchel, kini bermain di Saudi Pro League, sama-sama berusia kepala tiga, dan keduanya juga tak masuk skuad terbaru.

Bermain Tanpa Penyerang Tengah Murni sebagai Alternatif

Andaikan Inggris benar-benar kesulitan di posisi penyerang tengah karena cedera, skorsing, atau pensiunnya Kane, mereka masih bisa memilih bermain tanpa striker murni. Tuchel pernah menerapkan taktik ini ketika menangani Chelsea, dengan Kai Havertz sering dipasang di ujung serangan. Dalam 33 laga liga ketika Tuchel memainkannya sebagai penyerang tengah, Havertz mencetak 10 gol.

Pendekatan yang lebih cair juga terbukti sukses bagi Spanyol, juara dunia dan Eropa, yang memakai Mikel Oyarzabal dan Ferran Torres sebagai penyerang meski keduanya aslinya pemain sayap. Sistem semacam ini memberi fleksibilitas lebih besar dalam membangun serangan dan menyulitkan lawan dalam menjaga penanda.

Anthony Gordon bisa menjadi figur yang cocok untuk peran tersebut. Pemain sayap itu mencetak tiga gol pada jeda internasional kali ini. Newcastle United juga sempat memakainya sebagai penyerang pada akhir musim lalu, dan ia tampil produktif di Liga Champions dengan total 10 gol dari 12 penampilan.

Nama-Nama Muda yang Bisa Menembus Tim Senior

Di level akademi dan klub, ada sejumlah penyerang tengah yang menarik untuk diikuti. Penyerang Aston Villa berusia 17 tahun, Brian Madjo, mencetak lima gol di pramusim untuk Villa. Salah satunya ia buat di UEFA Super Cup melawan juara Eropa, Paris Saint-Germain, ketika ia merepotkan duet bek elite Marquinho dan Willian Pacho sepanjang pertandingan. Madjo sempat absen tujuh pekan karena cedera setelah laga itu, tetapi ia mendekati kembalinya ke tim utama setelah tampil di laga persahabatan melawan Sevilla pada jeda internasional.

Di divisi Championship, Will Lankshear menunjukkan perkembangan pesat. Striker 21 tahun lulusan akademi Tottenham, sama seperti Kane, itu langsung mencuri perhatian bersama Middlesbrough dengan delapan gol dari 11 penampilan untuk klub barunya.

Ada pula Divin Mubama dari Manchester City yang sedang dipinjamkan ke Southampton. Ia mencetak lima gol dalam 10 pertandingan kualifikasi Euro U21. Sementara itu, nama Dom Ballard dari Bristol City dan Josh Coburn dari Millwall dipandang sebagai penyerang muda dengan potensi besar.

Menariknya, Kane bisa saja memberi mereka waktu untuk berkembang. Ia mengaku terinspirasi oleh umur panjang karier Lionel Messi yang baru pensiun. Usai kekalahan Inggris di semifinal dari Argentina pada musim panas lalu, Kane menyebut bahwa Messi masih tampil di level tertinggi, sehingga ia tidak pernah ingin membatasi peluangnya sendiri.

Warisan Kane dan Waktu yang Masih Tersedia

Tuchel menegaskan bahwa solusi penyerang Inggris nantinya tidak akan berbentuk duplikat Kane. Ia mengatakan akan ada pemain lain, tetapi bukan Harry atau salinan Harry, dan solusinya bisa jadi baru ditemukan sekitar 10 tahun lagi, bahkan mungkin bukan di era kepelatihannya.

Pernyataan itu menggambarkan bahwa transisi pasca-Kane berpotensi menjadi persoalan lintas generasi. Inggris bisa saja menempuh jalur Bellingham sebagai false nine, memakai sistem tanpa striker murni seperti Spanyol, atau menunggu salah satu talenta muda menembus tim senior. Semua pilihan itu punya risiko dan konsekuensinya masing-masing.

Bagi para penggemar Inggris, kabar baiknya adalah Kane belum menunjukkan tanda-tanda menurun. Selama ia masih produktif di level klub maupun negara, pembahasan soal penggantinya masih bisa berjalan tanpa tekanan mendesak. Namun, semakin cepat Inggris menemukan jawabannya, semakin mulus pula proses regenerasi yang harus dilalui.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang siapa pengganti Harry Kane di Timnas Inggris bukan hanya soal mencari nama baru. Ini soal bagaimana Inggris merancang cara bermain yang tetap efektif tanpa sosok yang selama bertahun-tahun menjadi pusat serangan mereka. Kane memberi waktu bagi negaranya untuk berpikir, dan tugas berikutnya adalah memastikan waktu itu benar-benar dimanfaatkan.