Miguel Freckleton menempuh perjalanan yang nyaris sulit dipercaya: dari sepak bola non-liga Inggris ke Liga Champions hanya dalam sekitar dua setengah tahun. Bek 23 tahun kelahiran Bristol itu kini memperkuat LASK, juara Austria, setelah sebelumnya meraih trofi bersama St Mirren di Skotlandia. Dalam wawancara dengan BBC Sport, ia mengakui lonjakan kariernya terasa “gila” dan sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Kisah ini penting karena menunjukkan bahwa jalur menuju elite sepak bola Eropa tidak selalu lurus. Freckleton sempat kehilangan klub, menjalani empat masa pinjaman, dan baru menembus timnas Jamaika pada tahun yang sama ia mencicipi Liga Champions. Kini ia menjadi bagian dari LASK yang akan menghadapi raksasa seperti Liverpool dan Real Madrid di fase liga.

Perjalanan Miguel Freckleton: dari non-liga ke Liga Champions
Freckleton bergabung dengan LASK pada musim panas setelah satu tahun bersama St Mirren, klub Skotlandia yang ia bawa meraih gelar. Sebelumnya, ia dikenal sebagai pemenang National League 2024 bersama Chesterfield. Bersama LASK, ia telah tampil tujuh kali dan mencatat debut Eropa pada salah satu malam paling bersejarah klub.
Dalam laga itu, LASK membalikkan defisit 4-0 melawan Celtic dan lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya. Freckleton masuk pada perpanjangan waktu dan menjadi bagian dari kemenangan bersejarah tersebut. Momen itu menjadi pengingat bahwa sepak bola di level tertinggi bisa terasa sangat berbeda dari liga-liga yang ia jalani sebelumnya.
Undian fase liga kemudian mempertemukan LASK dengan jadwal berat, termasuk lawatan ke Anfield untuk menghadapi Liverpool dan ke Bernabeu untuk melawan Real Madrid. LASK sudah menghadapi AEK Athens, Liverpool, dan Sporting, serta masih akan bertemu Bodo/Glimt, Fenerbahce, Porto, dan Real Madrid. Freckleton sendiri belum dimainkan dalam tiga laga fase liga dan berharap kesempatan datang saat LASK menghadapi Slovan Bratislava.
Awal rumit di Bristol Rovers dan bayangan kompensasi £50.000
Freckleton sempat berada di akademi Bristol Rovers hingga usia 14 tahun. Ia memutuskan pergi setelah mengetahui ada ketertarikan dari Wolves dan Stoke City. Menurut ingatannya, seorang agen meyakinkan dia dan ibunya bahwa banyak klub menginginkan tanda tangannya dan ia akan segera mendapatkan klub baru jika meninggalkan Rovers.
Keputusan itu tidak berjalan mulus. Freckleton memiliki nilai kompensasi £50.000, dan ia bersama ibunya mengira masa depan sudah aman karena akan bergabung dengan Wolves atau klub besar lain. Namun, setelah beberapa sesi trial di Wolves bertepatan dengan kondisi sakit, ia justru tidak memiliki klub. Ia menyadari bahwa biaya kompensasi sebesar itu kemungkinan membuat klub lain berpikir dua kali.
Dalam masa limbo itu, Freckleton bergabung dengan Bristol Inner City Academy dan kemudian menempuh pendidikan di South Gloucestershire and Stroud College (SGS). Antoine Semenyo, yang kini bermain untuk Manchester City dan beberapa tahun lebih tua, juga pernah menempuh pendidikan di SGS. Freckleton sempat bermain untuk Mangotsfield United di kasta ketujuh sepak bola Inggris, dan pelatihnya saat itu, Matt Curry, sudah melihat bakat besarnya.
“Bahkan pada usia itu, ia salah satu pemain tertinggi dan tercepat,” kata Curry, yang kini menjadi asisten manajer Mangotsfield. “Saya yakin ia akan menjalani karier di sepak bola.” Keyakinan Curry itu kini terbukti lewat perjalanan Freckleton ke Liga Champions.
Empat masa pinjaman dan gelar bersama Chesterfield
Freckleton kembali ke sepak bola profesional pada Desember 2021 ketika bergabung dengan Sheffield United. Ia menghabiskan tiga setengah tahun di klub itu, tetapi tidak pernah menembus tim utama. Sebagai gantinya, ia menjalani empat masa pinjaman: tiga di National League bersama Wealdstone, Yeovil Town, dan Chesterfield, lalu satu tahun penuh di League Two bersama Swindon Town.
Masa pinjaman di Wealdstone memberi gambaran betapa beratnya perjuangan awal. Karena Wealdstone adalah klub paruh waktu, Freckleton harus menempuh perjalanan panjang antara Sheffield dan London untuk berlatih dengan kedua klub. Pinjaman itu dipotong agar ia bisa kembali ke Sheffield United, secara teori untuk tampil di putaran kelima Piala FA melawan Tottenham. Namun, dokumennya tidak selesai tepat waktu, dan ia mengaku sangat kecewa karena saat itu sedang tampil baik.
Setelah dipinjamkan ke Yeovil, Freckleton menjadi pemain reguler di Chesterfield saat klub itu menjuarai National League. Musim terakhirnya sebagai pemain Sheffield United juga dihabiskan di tempat lain, yakni di Swindon, tempat ia pertama kali merasakan sepak bola EFL. Ia menggambarkan pengalaman di League Two terasa “jelek” karena harus kembali bermain sederhana, tetapi justru di situ ia merasa seperti anak-anak lagi dan bermain dengan kebebasan. Ia tetap bersyukur atas semua masa pinjaman, baik yang berjalan lancar maupun yang sulit, karena menurutnya setiap klub telah membantunya berkembang.
Harapan untuk menembus tim utama Sheffield United sempat muncul ketika klub mengganti Chris Wilder dengan Ruben Selles pada Juni 2025. Namun, menurut Freckleton, Selles cepat memberi tahu bahwa ia tidak masuk dalam rencana. Ia pun mengambil sikap tegas: mencari jalan keluar tercepat dan memulai babak baru. Ketertarikan datang dari League One, tetapi manajer St Mirren, Stephen Robinson, sangat persuasif sekaligus realistis hingga meyakinkannya pindah ke Skotlandia.
Mengalahkan Celtic dan momen penting bersama St Mirren
Laga pertama Freckleton bersama St Mirren langsung mempertemukannya dengan Celtic. St Mirren kalah 1-0, tetapi pengalaman bermain di hadapan sekitar 65.000 penonton yang memadati stadion dan terus bernyanyi membuatnya sadar bahwa ia ingin menjadi bagian dari sepak bola seperti itu. Ia menyebut pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang “gila” dan langsung membuatnya jatuh cinta pada atmosfer pertandingan besar.
Bersama St Mirren, Freckleton juga merasakan semifinal Piala Skotlandia dan gelar Piala Liga Skotlandia. Pada final Piala Liga Desember tahun lalu, St Mirren bertemu Celtic dan menang 3-1. Freckleton menyebut momen meraih trofi itu sebagai perasaan terbaik yang pernah ia alami di lapangan.
Bagi Freckleton, pengalaman itu memperkuat keyakinan bahwa ia bisa bersaing di level tinggi. “Kami benar-benar dianggap underdog. Bisa mengalami itu dan kemudian mengalahkan Celtic di final sungguh terasa tidak nyata,” katanya. Kemenangan itu menjadi bukti bahwa tim yang tidak diunggulkan tetap bisa mencuri hasil besar jika tampil lepas dan percaya pada kemampuan sendiri.
Menembus timnas Jamaika dan mimpi melawan Meksiko
Tahun tersebut menjadi semakin istimewa karena Freckleton juga memulai karier internasionalnya. Bek kiri serba bisa ini mencatat tiga caps pertamanya untuk Jamaika pada jeda internasional September dan Oktober. Freckleton memiliki darah Jamaika dari ayahnya dan telah memulai proses mendapatkan kewarganegaraan penuh hampir setahun sebelum dipanggil.
Debutnya terjadi sebagai pemain pengganti melawan Honduras. Setelah itu, ia tampil sebagai starter, memberikan satu assist, dan bermain penuh dalam kemenangan Jamaika atas El Salvador dan Honduras. Itu menjadi kali pertama ia kembali ke Jamaika setelah sepuluh tahun, dan ia masih menyimpan kenangan indah menghabiskan musim panas di sana saat Olimpiade, termasuk menyaksikan Usain Bolt di London 2012 dan Rio 2016 melalui televisi.
“Saya sangat ingin menunjukkan kemampuan saya untuk negara ini,” ujar Freckleton. Ia menyadari betapa pentingnya sepak bola bagi Jamaika dan bagaimana bermain untuk negara terasa berbeda dari bermain untuk klub. Meski Jamaika bukan negara besar, menurutnya sepak bola di sana tetap menjadi hal yang sangat besar.
Agenda berikutnya adalah perempat final Concacaf Nations League melawan Meksiko dalam dua leg. Jamaika, seperti halnya Linz sebagai markas LASK, kini terasa jauh dari titik awal Freckleton di Bristol Inner City Academy dan SGS College. Perjalanan ini menunjukkan bahwa tidak ada satu jalur tunggal menuju kesuksesan, selama karakternya tepat dan kemauannya kuat.
Perjalanan Miguel Freckleton menunjukkan bahwa karier sepak bola tidak selalu berjalan sesuai rencana awal. Dari masa limbo setelah meninggalkan Bristol Rovers, empat masa pinjaman di Sheffield United, gelar bersama Chesterfield, hingga trofi bersama St Mirren, setiap tahap membentuknya menjadi pemain yang kini dipercaya di level internasional. Kesempatan menjalani debut Eropa dan bermain di Liga Champions adalah hasil dari ketekunan, bukan jalur instan.
Kini, tantangan berikutnya menanti bersama LASK dan Jamaika. Jika ia tetap memanfaatkan peluang seperti saat masuk di perpanjangan waktu melawan Celtic, bukan tidak mungkin momen-momen besar lain akan menyusul. Matt Curry, mantan pelatihnya, menegaskan bahwa karakter dan kemauan adalah kunci: “Kalau Anda punya karakter dan bakat yang tepat, Anda akan punya peluang untuk berhasil.”