Jose Mourinho kembali ke Real Madrid pada musim panas ini, dan baru tujuh pertandingan Liga Spanyol berjalan, tekanan sudah menumpuk di pundaknya. Kekalahan dari rival sekota Atletico Madrid membuat publik mempertanyakan konsistensi tim sekaligus pendekatan sang pelatih. Ini adalah periode kedua Mourinho di Bernabeu, 13 tahun setelah ia terakhir meninggalkan klub tersebut.
Mourinho datang dengan kontrak berdurasi tiga tahun, dan manajemen berharap ia mampu mengembalikan stabilitas sekaligus prestasi setelah dua musim berjalan tanpa trofi. Kini ia punya waktu tiga pekan jeda internasional untuk mengevaluasi banyak hal. Real Madrid tidak bermain lagi hingga menjamu Villarreal pada Sabtu, 10 Oktober, lalu bertandang ke markas Barcelona dua pekan setelahnya. Mourinho menyimpan kekhawatiran soal jeda panjang itu, tetapi di sisi lain ini adalah kesempatan awal untuk menata ulang arah tim.

Kekalahan di Derby dan Awal yang Belum Mulus
Laga melawan Atletico Madrid menjadi pengingat keras bagi Mourinho tentang besarnya tantangan yang sedang ia ambil. Ia menilai ada dua keputusan di babak pertama yang merugikan timnya. Cristian Romero luput dari kartu merah setelah tekel dengan sol terbuka ke arah Jude Bellingham, sementara Lee Kang-in tidak dihukum atas tekel serupa terhadap Federico Valverde.
Meski menyoroti dua momen itu, Mourinho tidak bisa menutup mata pada kenyataan bahwa penampilan anak asuhnya memang belum cukup baik. Real Madrid pulang dengan kekalahan, dan hasil tersebut langsung memantik pertanyaan soal konsistensi tim. Kritik pun mengarah pada cara Mourinho meramu starting line-up dan pendekatan taktisnya.
Menurut laporan yang beredar, Mourinho bahkan mencetak cuplikan insiden kartu merah tersebut setelah derby berakhir. Langkah itu memperlihatkan betapa ia merasa dirugikan oleh keputusan wasit, sekaligus menandakan bahwa tekanan emosional sudah muncul cukup dini di musim ini. Jeda internasional yang panjang pun menjadi momen yang ia butuhkan untuk meredakan situasi dan menyusun rencana berikutnya.
Posisi Real Madrid di Klasemen dan Bayang-bayang Barcelona
Dampak dari kekalahan itu terlihat jelas di papan klasemen: Real Madrid kini berada di peringkat keempat. Barcelona yang berstatus juara bertahan sudah unggul enam poin, setelah menyapu bersih tujuh laga dengan 31 gol, dan Raphinha sendiri telah mencetak 12 gol. Selisih itu terasa besar karena Madrid belum menunjukkan performa yang meyakinkan secara konsisten.
Di belakang Barcelona, Atletico Madrid menempati posisi kedua dan Real Betis ketiga, keduanya berjarak lima poin dari tim asuhan Hansi Flick. Artinya, Madrid bukan satu-satunya tim yang harus mengejar, dan persaingan di papan atas membuat setiap poin yang hilang terasa semakin mahal. Tekanan untuk segera bangkit pun datang dari dua arah sekaligus.
Secara historis, Real Madrid hanya pernah sekali membalikkan defisit enam poin dari Barcelona di puncak klasemen, yakni pada musim juara bersama Fabio Capello di 2006-07. Catatan itu menjelaskan mengapa situasi sekarang dianggap serius, meskipun kompetisi masih panjang dan banyak hal bisa berubah. Mourinho perlu memastikan timnya tidak jatuh lebih jauh sebelum jarak itu menjadi terlalu sulit dikejar.
Kontrol Lini Tengah Jadi Persoalan Utama Mourinho di Real Madrid
Masalah paling jelas dari kekalahan di markas Atletico adalah hilangnya kontrol di lini tengah. Mourinho memulai laga dengan Aurelien Tchouameni berdampingan dengan Valverde, sementara Bellingham ditempatkan lebih ke depan. Susunan itu memberi energi dan rasa aman secara defensif, tetapi Madrid kesulitan mengatur tempo permainan.
Aliran bola dari area yang lebih dalam pun tidak cukup lancar untuk menciptakan peluang. Bernardo Silva baru dimasukkan pada delapan menit terakhir, dan saat itu Madrid sudah berada dalam posisi mengejar ketertinggalan. Perubahan yang terlambat itu membuat dampaknya nyaris tidak terasa.
Dari sini muncul dilema pemilihan pemain yang menarik bagi Mourinho. Menghadapi lawan yang bertahan dalam blok rapat, Madrid membutuhkan lebih banyak kreativitas dan kendali dari lini tengah. Kemampuan Silva mengatur ritme pertandingan membuatnya menjadi opsi yang jelas, sementara Arda Guler menawarkan kreativitas tambahan di posisi yang lebih maju.
Mourinho sebenarnya tidak harus meninggalkan formasi double pivot yang ia percaya. Yang ia butuhkan adalah cara agar Real Madrid bisa lebih menguasai jalannya pertandingan, bukan sekadar bertahan rapi lalu mengandalkan serangan balik. Tanpa penyesuaian itu, pola yang sama berpotensi terulang setiap kali lawan bermain defensif.
Memaksimalkan Mbappe, Vinicius, dan Bellingham
Kualitas individu di lini serang Real Madrid tidak perlu diragukan lagi. Persoalannya adalah membuat kualitas itu bekerja secara konsisten sebagai satu kesatuan. Melawan Atletico, Madrid kesulitan menciptakan peluang bersih, Kylian Mbappe nyaris tidak menyentuh bola, dan Vinicius Jr ditarik keluar tak lama setelah kartu merah Dean Huijsen di awal babak kedua.
Mourinho sebenarnya punya tiga pemain yang mampu menentukan hasil pertandingan sendiri, yaitu Vinicius, Mbappe, dan Bellingham. Kemampuan Bellingham membawa bola ke depan, masuk ke kotak penalti dari lini kedua, serta menghubungkan lini tengah dengan serangan menjadi bagian penting dari ancaman Madrid. Ketiganya adalah aset yang bisa membuat perbedaan selama ditempatkan dalam peran yang tepat.
Tantangannya adalah memastikan trio tersebut saling melengkapi, bukan saling berebut ruang. Vinicius perlu menemukan kembali ledakan dan kegarisan yang membuatnya begitu sulit dijaga lawan. Sementara itu, Mbappe membutuhkan pasokan peluang yang lebih banyak, bukan diminta menciptakan kans sendirian dari posisi yang terlalu jauh dari kotak penalti.
Transisi dan Soliditas Lini Belakang
Sorotan besar lainnya adalah apa yang terjadi ketika Madrid kehilangan penguasaan bola. Atletico berulang kali menemukan ruang di sekitar lini tengah Madrid dan mampu menyerang dengan cepat, sementara kartu merah Huijsen membuat keadaan semakin rumit. Madrid tampak rentan justru di momen-momen setelah serangannya gagal.
Jika Mourinho ingin timnya menekan agresif dan mengirim banyak pemain ke depan, Tchouameni dan Valverde wajib memberikan perlindungan yang cukup saat bola hilang. Keseimbangan semacam ini adalah harga yang harus dibayar dari gaya bermain menyerang. Tanpa itu, Madrid akan terus membuka ruang yang bisa dimanfaatkan lawan.
Melawan Atletico, empat bek yang diturunkan adalah Denzel Dumfries, Ibrahima Konate, Huijsen, dan Marc Cucurella, bermain di depan Thibaut Courtois. Kualitas di barisan itu jelas ada, tetapi Mourinho menginginkan kohesi yang lebih baik, terutama ketika bek sayap ikut naik membantu serangan. Celah di sisi pertahanan harus segera ditutup.
Penampilan Courtois menunjukkan betapa pentingnya peran kiper bagi tim ini, dengan beberapa penyelamatan krusial yang menjaga Madrid tetap berada dalam pertandingan. Tugas Mourinho berikutnya adalah mengurangi situasi yang memaksa kiper bekerja keras. Madrid harus dibuat lebih sulit dieksploitasi ketika serangan mereka buntu.
Carlos Espi, Opsi Segar di Lini Depan
Ada satu opsi menyerang lain yang bisa dimanfaatkan Mourinho lebih sering. Carlos Espi langsung memberi kesan sejak bergabung dengan klub, mencetak gol kemenangan pada menit ke-90 melawan Espanyol di laga debutnya di liga, lalu mengulanginya di masa tambahan waktu saat melawan Elche.
Pemain berusia 21 tahun itu sudah membuktikan bahwa ia mampu memberi dampak ketika diberi waktu bermain. Selama Madrid masih mencari formula terbaik untuk menyeimbangkan Vinicius, Mbappe, dan Bellingham, Espi menawarkan alternatif yang menarik. Ia khususnya berguna ketika tim membutuhkan titik fokus di fase akhir pertandingan.
Dampak awal yang ia tunjukkan mengisyaratkan bahwa Espi layak mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk memperlihatkan kemampuannya. Memberinya menit bermain bukan hanya soal rotasi, tetapi juga soal menambah variasi serangan yang saat ini terasa mudah diprediksi.
Ujian Berikutnya Menentukan Arah Musim Ini
Perjalanan kedua Mourinho di Real Madrid memang belum berada di titik kritis, tetapi sinyal peringatannya sudah cukup jelas. Tiga persoalan utama yang perlu segera dibenahi adalah kontrol lini tengah, sinergi trio penyerang, dan perlindungan saat kehilangan bola. Selama ketiganya belum tertangani, Madrid akan terus kehilangan poin di momen-momen penting.
Jeda tiga pekan memberi Mourinho ruang untuk membenahi pola permainan sebelum menghadapi Villarreal dan Barcelona. Dua laga itu akan menjadi ujian sesungguhnya bagi arah periode keduanya di Bernabeu. Jika jawaban atas masalah-masalah tersebut tidak kunjung ditemukan, persaingan gelar bisa menjauh lebih cepat dari yang ia harapkan.