Chawinga Bersaudara: Kunci Kejutan Malawi di Final Wafcon

Malawi menjadi kuda hitam paling mengejutkan di Piala Afrika Wanita (Wafcon) 2026. Tim debutan ini berhasil melaju hingga partai final melawan Kamerun pada Minggu (19:00 GMT). Di balik pencapaian itu, ada peran besar dari kakak beradik Tabitha dan Temwa Chawinga yang haus gol.

Dari 12 gol yang dicetak Malawi selama turnamen, sembilan di antaranya lahir dari kaki kedua Chawinga bersaudara. Temwa memimpin perburuan sepatu emas dengan lima gol, sama banyaknya dengan penyerang Zambia, Barbra Banda. Capaian ini makin istimewa karena Scorchers—julukan timnas wanita Malawi—adalah tim berperingkat terendah di putaran final Maroko, yakni peringkat ke-153 dunia.

Chawinga

Chawinga Bersaudara, Mesin Gol Malawi di Wafcon 2026

Tabitha dan Temwa memang bukan nama baru di pentas sepak bola wanita dunia. Keduanya sudah lama malang melintang di klub-klub besar Eropa dan Amerika Serikat. Namun penampilan mereka di Wafcon 2026 tetap menjadi sorotan karena berhasil membawa tim yang tidak diunggulkan melaju jauh.

Malawi membuka turnamen dengan menumbangkan Nigeria, juara 10 kali, pada laga pertama Grup C. Mereka juga finis di atas Zambia yang merupakan semifinalis edisi 2022. Di perempat final, Malawi membalikkan keadaan untuk mengalahkan Ghana 2-1 sekaligus memastikan tiket ke Piala Dunia Wanita tahun depan.

Di babak semifinal, giliran Aljazair yang takluk. Kedua Chawinga bersaudara sama-sama mencetak gol dalam kemenangan tersebut. Temwa mengaku sangat bahagia karena banyak pihak tidak memberi peluang kepada Malawi sejak awal.

Kisah Tabitha Chawinga: dari Desa Rumphi ke Panggung Eropa

Tabitha lahir pada 22 Mei 1996 di distrik Rumphi, Malawi utara. Sejak kecil, ia bermain sepak bola bersama anak laki-laki di desanya dengan bola yang terbuat dari plastik atau kertas. Ia mengaku tidak pernah merasa berbeda dari laki-laki, dan selalu percaya bisa melakukan apa pun yang mereka lakukan.

Namun, ibunya tidak menyetujui pilihannya. Tabitha menceritakan kepada BBC bahwa ibunya sempat memukulnya karena merasa malu. Orang-orang kerap memprovokasi ibunya dengan mengatakan bahwa Tabitha tidak akan menikah atau tidak mau sekolah, bahkan teman-temannya sendiri meragukan bahwa perempuan bisa bermain sepak bola.

Meski begitu, Tabitha tetap bertahan. Kariernya mulai menanjak ketika ia bergabung dengan DD Sunshine di Lilongwe. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang religius dan kerap memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan dalam berbagai kesempatan wawancara.

Karier Tabitha: Swedia, China, Inter Milan, PSG, hingga Lyon

Langkah Tabitha ke Eropa dimulai pada 2014. Saat itu, seorang warga Amerika yang bekerja di lembaga swadaya masyarakat sempat membela DD Sunshine sebelum pindah ke Swedia. Pemilik DD Sunshine, David Dube, kemudian menyarankan klub Swedia Krokom Dvarsatts untuk mencoba Tabitha.

Awalnya Krokom ragu, tetapi Dube bersedia membayar biaya visa dan tiket pesawat Tabitha untuk menjalani trial di Swedia. Tabitha pun bergabung dan langsung mengesankan dengan kekuatan, kemampuan dribel, tembakan jarak jauh, dan naluri mencetak golnya. Setelah berusia 18 tahun, ia menjalani debut dan menjadi perempuan Malawi pertama yang bermain di Eropa dengan torehan 39 gol dalam 14 pertandingan.

Kariernya terus menanjak. Di Kvarnsveden, ia mencetak 43 gol dan membantu timnya meraih promosi, lalu menjadi pencetak gol terbanyak liga utama Swedia pada 2017. Enam tahun di China memberinya tiga gelar liga, tiga sepatu emas, dan dua penghargaan pemain terbaik musim. Masa pinjaman di Inter Milan pada 2022-2023 juga berbuah gelar pencetak gol terbanyak Serie A.

Selanjutnya, Tabitha bergabung dengan Paris Saint-Germain dan menjadi perempuan Malawi pertama yang bermain serta mencetak gol di Liga Champions Wanita UEFA pada 2023. Kini ia membela Lyon, klub tersukses Prancis, dan membantu tim meraih gelar domestik dua musim beruntun. Ia juga tampil di final Liga Champions musim lalu sebelum kalah dari Barcelona.

Temwa Chawinga: Pencetak Gol Terbanyak Dunia 2023

Temwa lahir pada 20 September 1998. Namanya berarti “cinta” dalam bahasa Tumbuka. Ia mengikuti jejak kakaknya dan mengakui Tabitha sangat berperan dalam kariernya. Kakaknya membuka koneksi agar ia bisa bermain di luar negeri, tetapi yang lebih penting, Tabitha selalu menasihatinya untuk berjuang keras dan tidak menghiraukan orang-orang yang mencoba mengalihkan fokus.

Keduanya sempat bermain bersama di DD Sunshine dan Kvarnsveden setelah Tabitha merekomendasikan adiknya ke klub Swedia tersebut. Pada 2019, Temwa mencetak 35 gol di liga Swedia. Ketika agen-agen di China mencari pemain seperti Tabitha, ia kembali merekomendasikan sang adik, dan Wuhan Jianghan pun langsung merekrutnya.

Di Wuhan, Temwa membantu klub meraih empat gelar liga beruntun, termasuk edisi 2021 yang dijalani bersama kakaknya. Pada 2023, Temwa menjadi pencetak gol terbanyak dunia sepanjang tahun kalender dengan 51 gol untuk klubnya ditambah 12 gol untuk Malawi, mengungguli nama-nama besar seperti Erling Haaland, Cristiano Ronaldo, dan Lionel Messi. Saat mengetahui kabar itu, ia mengaku tidak percaya dan merasa sangat bahagia.

Pada 2024, Temwa pindah ke Kansas City Current di Liga Amerika Serikat (NWSL) dan langsung menjadi pencetak gol terbanyak dengan 20 gol di musim debutnya. Tahun berikutnya ia menambah 15 gol dan membantu timnya mencatat rekor terbaik di musim reguler NWSL sebelum akhirnya kalah di babak play-off. Ia dinobatkan sebagai pemain terbaik liga dua musim beruntun. Meski demikian, belum ada satu pun dari kedua bersaudara ini yang dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Wanita Afrika.

Dampak Chawinga Bersaudara bagi Sepak Bola Wanita Malawi

Tabitha dan Temwa sama-sama tampil prolifik di level internasional sejak debut masing-masing pada 2011 dan 2016. Tabitha biasanya menjadi kapten Malawi, tetapi Temwa yang memimpin tim meraih trofi pertama mereka, yakni gelar Kejuaraan Wanita COSAFA 2023. Sebelum turnamen ini, Tabitha mengaku sudah lama menantikan kesempatan tampil di Piala Afrika Wanita dan selalu meyakinkan rekan-rekannya untuk tidak malu atau takut.

Ketua Federasi Sepak Bola Malawi, Fleetwood Haiya, mengatakan dana dari FIFA ikut mendorong kesuksesan tim wanita ini. Namun kedua kakak beradik itu menyerukan agar investasi terus ditingkatkan. Temwa percaya jika ada lebih banyak dukungan untuk sepak bola wanita di Malawi, akan lahir banyak pemain seperti dirinya dan Tabitha.

Jika Malawi berhasil menjuarai Wafcon, mereka akan menjadi tim keempat yang melakukannya setelah Nigeria, Guinea Ekuatorial, dan Afrika Selatan. Sepasang kakak beradik dari latar belakang sederhana ini menjadi alasan utama mimpi itu begitu nyata. Apa pun hasil laga final nanti, perjalanan Malawi di Wafcon 2026 telah membuktikan bahwa bakat besar bisa lahir dari tempat yang tidak pernah diperhitungkan.

Chawinga bersaudara membuktikan bahwa mimpi besar bisa dimulai dari lapangan desa dengan bola plastik atau kertas. Kini keduanya berada di ambang sejarah membawa Malawi meraih gelar Wafcon pertama. Dukungan dan investasi yang lebih serius akan menentukan apakah akan lahir lebih banyak bakat seperti mereka di masa depan.

Bagi Afrika, kisah Tabitha dan Temwa bukan sekadar soal gol dan trofi. Ini adalah cerita tentang ketekunan, keberanian melawan keraguan, dan keyakinan bahwa perempuan bisa bermain sepak bola setara dengan laki-laki. Jika Malawi keluar sebagai juara, itu akan menjadi penghormatan terindah bagi dua putri Rumphi yang tidak pernah berhenti bermimpi.