Tottenham 0-0 Everton: Spurs Kembali Mandul di Era Baru

Tottenham 0-0 Everton menjadi hasil yang menegaskan satu masalah besar bagi tuan rumah: mereka masih belum bisa mencetak gol di Premier League musim ini. Bermain di Tottenham Hotspur Stadium, Spurs menguasai bola jauh lebih banyak, tetapi tetap tidak mampu membongkar pertahanan Everton hingga laga berakhir tanpa gol. Hasil ini membuat rangkaian pertandingan liga tanpa gol Spurs bertambah panjang menjadi 407 menit.

Laga ini terasa lebih pahit karena terjadi di awal era baru yang digadang-gadang akan membawa perubahan besar. Sebelum kick-off, seorang pendukung Spurs mengangkat spanduk bertuliskan “Please Score A Goal” — sebuah pesan yang terasa lebih seperti jeritan minta tolong dibanding sekadar permintaan. Setelah belanja lebih dari £300 juta pada bursa transfer musim panas, ekspektasi terhadap skuad asuhan Roberto de Zerbi jelas tinggi, namun yang tersaji di lapangan masih jauh dari harapan tersebut.

Dominasi Tanpa Ketajaman di Depan Gawang

Sepanjang babak pertama, Spurs memang memegang kendali permainan. Namun penguasaan bola yang melimpah tidak berbanding lurus dengan ancaman nyata ke gawang Jordan Pickford. Terlalu banyak umpan aman, terlalu lama mengambil keputusan, dan pada banyak momen para pemain justru melepas tanggung jawab untuk menembak. Situasi ini membuat suasana di stadion perlahan berubah dari harapan menjadi kegelisahan.

Ketika Mateus Fernandes, rekrutan musim panas senilai £85 juta, akhirnya melepaskan tembakan pertama yang mengarah ke gawang, stadion justru menyambutnya dengan tepuk tangan bernada ironis. Momen itu menjadi semacam cermin betapa jarangnya Spurs menciptakan peluang berbahaya. Everton sendiri bukannya tanpa ancaman, dan justru tim tamu yang mendapat dua peluang terbaik dalam laga ini melalui Kiernan Dewsbury-Hall dan Brennan Johnson.

Di menit-menit akhir, ketika Spurs hanya bermain bola di lini belakang pada sisa tujuh menit terakhir, kemarahan penonton semakin terasa. Wasit meniup peluit panjang, dan para pemain De Zerbi meninggalkan lapangan dengan sorakan negatif dari tribun — pemandangan yang mengingatkan pada musim lalu.

407 Menit Tanpa Gol dan Rekor yang Mengkhawatirkan

Angka 407 menit tanpa gol di Premier League bukan sekadar statistik biasa. Ini menjadi kali pertama Spurs gagal mencetak gol dalam empat pertandingan pembuka liga, bahkan jika dihitung dari semua tingkatan kompetisi. Selain itu, ini juga menandai empat laga Premier League berturut-turut tanpa gol, sesuatu yang terakhir terjadi pada September 2006.

Data expected goals (xG) memperkuat gambaran tersebut. Non-penalty xG per tembakan Spurs musim ini hanya 0,066, yang berarti tingkat konversi yang diharapkan sekitar 6,6 persen. Dalam bahasa sederhana, Spurs bukan tim yang efektif dalam menciptakan ancaman serangan. Peluang memang ada, tetapi kualitas dan ketegasan penyelesaiannya jauh dari cukup.

Menariknya, gol liga terakhir Spurs justru tercipta melawan Everton pada hari terakhir musim lalu lewat Joao Palhinha. Gol itu menyelamatkan mereka dari degradasi dan membuka jalan untuk memulai lembaran baru musim ini. Namun setelah dua musim berturut-turut finis di posisi ke-17, masalah ketajaman ini jelas bukan hal yang bisa diabaikan begitu saja.

Reaksi De Zerbi dan Ketegangan di Bangku Cadangan

Meski laga baru berjalan beberapa pekan, De Zerbi merasa perlu menyampaikan permintaan maaf kepada para pendukung. Ia mengakui bahwa penonton tampil luar biasa, terutama di paruh awal pertandingan, karena mereka melihat tim berusaha mencari solusi. Menurutnya, reaksi negatif di akhir laga adalah hal yang wajar mengingat hasil yang didapat.

Pelatih asal Italia itu juga terlihat semakin emosional seiring berjalannya pertandingan. Saat peluit akhir berbunyi, ia masuk ke lapangan untuk berbicara dengan pemain pengganti, Mathys Tel. De Zerbi menegaskan bahwa ia sedang melatih Tel soal posisi tubuh, karena seorang penyerang harus bisa bermain dengan bahu menghadap gawang dan mengarahkan pandangan ke gawang atau ke arah umpan silang. Ia menambahkan bahwa dirinya menyukai Tel sebagai pemain dan pribadi, sehingga tidak ada masalah di antara mereka.

Di sisi lain, kiper Everton, Pickford, sempat menyelamatkan peluang Spurs. Lucas Bergvall, yang masuk sebagai pengganti, hampir mencuri kemenangan lewat tembakan jarak jauh di akhir laga setelah Pickford memberikan bola kepada pemain Swedia itu.

Belanja Besar, Ujung Tombak yang Tumpul

Seluruh upaya dilakukan De Zerbi untuk mengakhiri paceklik gol ini. Ia menurunkan rekrutan barunya dari Manchester City, Omar Marmoush dan Savio, di posisi menyerang, serta memberi Dominic Solanke start pertamanya di liga musim ini. Mohammed Kudus dan James Maddison juga dimasukkan saat ketegangan meningkat, namun tidak ada satu pun yang mampu memecah kebuntuan.

Dari bangku penonton, Richarlison menyaksikan semuanya dengan raut muram. Penyerang Brasil berusia 29 tahun itu tengah berselisih dengan klub terkait sembilan bulan sisa kontraknya. Ia tidak dimasukkan ke dalam skuad Premier League De Zerbi setelah rencana kepindahan ke mantan klubnya, Everton, gagal pada hari batas transfer. Kepindahan kembali ke Brasil bersama Vasco da Gama juga tidak terealisasi.

Di sisi Everton, pertahanan mereka tampil solid dan menyulitkan Spurs sepanjang laga. Jarrad Branthwaite menjadi sosok menonjol dan semakin memperkuat klaimnya untuk masuk skuad Inggris berikutnya di bawah asuhan Thomas Tuchel setelah sempat diterpa cedera.

Apa Artinya bagi Spurs dan Langkah Selanjutnya

De Zerbi menilai bahwa pada 30 menit pertama timnya tampil sangat baik, hanya saja gagal mencetak gol. Ia melihat para pemain kehilangan kepercayaan diri di babak kedua, dan hal itu menjadi bagian penting yang harus segera dibenahi. Menurutnya, para pemain adalah manusia yang punya emosi serta berpikir dengan kepala mereka, sehingga tugas pelatih adalah membantu mereka tetap fokus pada perbaikan.

Ketika sebuah klub melakukan revolusi besar-besaran seperti yang dijalankan De Zerbi musim panas ini, masalah adaptasi memang sulit dihindari. Diperlukan waktu agar pemahaman dan hubungan antar pemain terbentuk. Namun di Premier League, waktu sering kali menjadi barang mewah yang tidak tersedia, terutama ketika hasil buruk mulai menumpuk dan tekanan dari tribun semakin besar.

Hasil imbang ini juga tercatat sebagai Tottenham 0-0 Everton pertama di Tottenham Hotspur Stadium, pada pertandingan ke-140 di stadion tersebut. Berdasarkan penampilan kali ini, bukan tidak mungkin akan ada hasil serupa lagi jika masalah ketajaman tidak segera diselesaikan.

Bagi Spurs, penantian akan kemenangan dan gol pertama di Premier League musim ini masih berlanjut. Laga melawan Everton menunjukkan bahwa penguasaan bola dan belanja besar belum cukup jika tim tidak punya ketegasan di depan gawang. Selama persoalan itu belum terpecahkan, era baru yang diharapkan menjadi titik balik justru berisiko berubah menjadi harapan palsu.