Derby Championship Kembali Panas: Millwall vs West Ham

Jadwal EFL 2026-27 sudah dirilis sejak 84 hari lalu, dan musim ini menghadirkan sesuatu yang jarang terjadi bagi penggemar sepak bola Inggris: derby Championship kembali ke daftar laga wajib tonton. Dua bentrokan paling disorot akhir pekan ini adalah Millwall menjamu West Ham di The Den, Sabtu siang pukul 12.30 BST, serta Wolves bersua West Brom di Molineux, Minggu pukul 12.00 BST. Keduanya bukan sekadar perebutan tiga poin, melainkan reuni rivalitas lama yang sempat vakum bertahun-tahun.

Perubahan komposisi divisi akibat promosi dan degradasi pada Mei lalu menjadi pemicu utamanya. Klub-klub yang biasanya terpisah kasta kini kembali berada di liga yang sama, sehingga tensi laga jadi jauh lebih terasa. Dari sekian banyak pertandingan dalam satu musim, hanya sebagian kecil yang benar-benar membuat pendukung memblokir kalender mereka sejak jauh hari. Derby-derby inilah yang masuk kategori tersebut, dan tahun ini jumlahnya bertambah karena rivalitas lama ikut “naik kelas” bersama timnya.

Dockers Derby: Millwall dan West Ham Bertemu Setelah Hampir 15 Tahun

Laga di The Den menjadi pertemuan pertama kedua klub dalam hampir 15 tahun, sebuah jeda yang terasa sangat panjang mengingat keduanya sama-sama berasal dari London. Rivalitas ini dikenal sebagai “Dockers Derby”, julukan yang lahir dari akar kedua klub di kawasan galangan kapal London. Sejak 1899, ketika Millwall Athletic menang 2-1 atas West Ham di ajang FA Cup, keduanya terus bersitegang hingga sekarang.

Secara total, kedua tim sudah bertemu 60 kali. Namun hanya tujuh di antaranya terjadi dalam 33 tahun terakhir, angka yang menunjukkan betapa jarangnya laga ini tersaji di lapangan. Kelangkaan itu justru membuat setiap pertemuan terasa seperti peristiwa besar, bukan pertandingan biasa dalam kalender liga.

Satu-satunya musim ketika keduanya berada di kasta yang sama dalam 22 tahun terakhir adalah 2011-12. Saat itu, laga di The Den pada September berakhir tanpa gol, sebelum West Ham menang 2-1 di Upton Park pada Februari tahun berikutnya, sebuah kemenangan yang mengantar mereka promosi kembali ke Premier League.

Sejarah Panjang dan Luka yang Masih Tertinggal

Jeda menuju laga akhir pekan ini tercatat sebagai penantian terpanjang kedua dalam 127 tahun sejarah rivalitas Millwall dan West Ham. Rekor penantian terpanjang masih dipegang jeda 31 tahun sebelum keduanya bertemu di kompetisi kasta kedua pada 1978. Artinya, apa yang terjadi Sabtu nanti berada di wilayah yang secara historis sangat jarang dialami kedua klub.

Rivalitas ini juga meninggalkan jejak kelam. Ketika kedua tim bertemu di laga Piala pada 2009, kerusuhan terjadi di dalam maupun di luar lapangan. Komentator BBC Radio London, Nick Godwin, menilai peristiwa itu “meninggalkan luka bagi sepak bola di kota ini”.

Godwin menjelaskan bahwa derby London pada umumnya memang punya aturannya sendiri. “Ekspektasi, kerumunan penonton, dan sensasi kedekatan semuanya menambah aura ketidakpastian,” ujarnya. “Namun Millwall melawan West Ham berjalan di level yang berbeda. Laga ini seperti berjalan di atas tali tipis, kapan pun dan di mana pun dimainkan. Berbeda dari banyak bentrokan klub ibu kota lainnya, laga ini jarang terjadi.”

Rekor kandang juga berpihak pada Millwall. West Ham belum pernah menang di Bermondsey sejak Desember 1988 di Den lama, sementara The Lions menang tiga kali dan seri dua kali dari lima pertemuan di kandang mereka sejak itu. “Tim yang paling mampu beradaptasi dengan suasana itulah yang akan menang,” prediksi Godwin. “Jika Millwall bisa bangkit menyambut momen ini, jangan coret mereka. Jika West Ham mampu meredam kebisingan, kredibilitas mereka sebagai kandidat promosi akan semakin terang.”

Black Country Derby: Wolves dan West Brom Bersua Lagi

Di Midlands, rivalitas yang berjalan lebih dari 140 tahun kembali tersaji. Laga Minggu di Molineux akan menjadi pertemuan senior ke-164 antara Wolves dan West Brom, sekaligus yang pertama sejak babak keempat FA Cup pada Januari 2024. Saat itu, Wolves yang masih berkompetisi di Premier League menang 2-0 di The Hawthorns.

Pertandingan tersebut sempat terhenti selama 38 menit akibat kerusuhan penonton, yang berujung pada sanksi denda dari FA untuk pihak Baggies. Insiden itu menjadi pengingat bahwa tensi kedua klub tidak pernah benar-benar surut, bahkan ketika mereka jarang bertemu. Keduanya adalah anggota pendiri Football League dan pernah memainkan derby lokal pertama dalam sejarah kompetisi tersebut. Jarak kedua kota hanya kurang dari sembilan mil jika diukur lurus.

Dalam 15 tahun terakhir, mereka hanya satu musim berada di divisi yang sama, yakni kampanye Premier League 2021 yang terimbas pandemi. Kedua pertemuan saat itu digelar tanpa penonton, sehingga aroma derby yang sesungguhnya praktis hilang. Itulah sebabnya laga akhir pekan ini terasa seperti pertemuan yang benar-benar baru.

Dominasi Albion dan Tekanan Berat di Pundak Wolves

Komentator Wolves di BBC Radio WM, Mike Taylor, menyebut ada dua berkah tersembunyi bagi pendukung saat timnya terdegradasi dari Premier League. “Tidak lagi terpapar VAR jelas dianggap sebagai kelegaan,” katanya. “Yang kedua adalah kembalinya Black Country derby.” Menurutnya, laga ini bisa memainkan peran besar dalam musim Wolves karena menyuntikkan energi positif jika mereka menang, dan sebaliknya juga berlaku.

Taylor menambahkan bahwa selama beberapa tahun Wolves bisa memandang Albion dari ketinggian Premier League. “Kalah dari mereka sekarang, ketika kami kembali di level yang sama, akan membuat kehilangan status itu terasa jauh lebih sulit diterima,” ujarnya. Tekanan psikologis ini membuat tiga poin terasa lebih berbobot daripada sekadar hitungan matematis di klasemen.

Statistik juga tidak berpihak pada Wolves. Laga liga terakhir kedua tim yang disaksikan penonton berakhir 5-1 untuk Albion di Molineux pada Februari 2012. Dalam 25 tahun terakhir, Baggies menang pada enam dari delapan kunjungan terakhir mereka ke Wolverhampton di semua kompetisi, termasuk kemenangan dramatis 3-2 di semifinal play-off Championship 2007. Menjelang kekalahan di FA Cup tahun lalu, Albion hanya kalah tiga kali dari 23 pertemuan.

Komentator Albion di BBC Radio WM, Steve Hermon, menilai rivalitas ini justru kurang dihargai secara nasional. “Karena kedua tim naik-turun antara kasta kedua dan Premier League, hanya ada enam pertemuan liga dalam 17 tahun terakhir,” katanya. “Meski begitu, kebencian antara biru-putih dan old gold tidak pernah pudar. Suasananya liar dan bisa meluap. Semoga yang kita bicarakan nanti hanya soal apa yang terjadi di lapangan.” Sebagai catatan tambahan, sumber menyebutkan penyerang Wolves, Jimenez, akan absen di laga ini, sementara kedua klub telah mengeluarkan peringatan terkait potensi kerusuhan.

Derby Lancashire hingga South Wales Ikut Menghangat

Panasnya derby Championship musim ini tidak hanya terjadi di London dan Midlands Barat. Degradasi Burnley dari Premier League serta promosi Bolton dari League One menciptakan kumpulan derby Lancashire yang menarik untuk diikuti, terlebih karena Blackburn dan Preston juga berkompetisi di kasta kedua. Keempat klub itu berada dalam radius sekitar 20 mil, dan bersama-sama mereka menyumbang sepertiga dari 12 anggota pendiri Football League.

Rivalitas Lancashire Timur antara Blackburn dan Burnley akan kembali bergulir pada akhir November setelah absen setahun, dengan laga balasan pada awal Februari. Burnley dan Bolton terakhir kali berbeda dua divisi musim lalu, tetapi akan bertemu untuk pertama kalinya dalam hampir 11 tahun pada Boxing Day. Dalam tujuh pertemuan terakhir di semua kompetisi, Bolton hanya menang sekali dan kalah lima kali, padahal sebelumnya mereka tak terkalahkan dalam sembilan laga selama 22 tahun.

Bolton juga akan menjamu Blackburn pada 5 Desember, bertepatan dengan akhir pekan ketika Burnley menjamu Preston. Saat ini Bolton memuncaki persaingan antar-klub Lancashire berkat kemenangan 2-1 atas Preston di laga pembuka. Mereka akan bertandang ke Deepdale pada Maret, laga pertama dari tiga derby Lancashire tandang dalam rentang 14 hari, periode ketika Preston juga menjamu Burnley.

Sementara itu, di Wales hanya ada satu laga yang benar-benar membuat denyut nadi berdebar, meski Wrexham sempat mencuri perhatian dalam 12 bulan terakhir. South Wales derby kembali tersaji setelah Cardiff promosi ke Championship pada percobaan pertama musim lalu. The Bluebirds akan bertandang ke Swansea pada akhir November, lalu menjamu sang rival di ibu kota pada pertengahan Maret. Rivalitas ini lahir pada laga kompetitif pertama Swansea pada 1912. Cardiff menang 3-0 pada pertemuan terakhir Januari 2025, sementara kemenangan terakhir Swansea terjadi pada Maret 2024, meski Swansea pernah dua musim beruntun menyapu bersih dua laga pada 2021-22 dan 2022-23.

Apa Artinya bagi Peta Persaingan Championship

Bagi tim-tim yang terlibat, derby bukan hanya soal gengsi, tetapi juga soal momentum. Laga semacam ini mampu menyuntikkan energi yang bertahan berpekan-pekan, atau sebaliknya menghancurkan kepercayaan diri sebuah skuad. Bagi West Ham, yang datang dengan ambisi promosi, meredam tekanan di The Den menjadi ujian karakter yang sesungguhnya. Bagi Millwall, laga ini adalah kesempatan menunjukkan bahwa mereka mampu bersaing di level yang lebih tinggi.

Di sisi lain, bagi Wolves, kekalahan dari Albion akan terasa jauh lebih pahit karena datang tepat setelah mereka kehilangan status sebagai klub Premier League. Sebaliknya, kemenangan bisa menjadi titik balik yang mengubah arah musim mereka. Pola serupa berlaku di Lancashire dan Wales, di mana hasil derby sering kali menentukan atmosfer di ruang ganti selama berbulan-bulan setelahnya.

Yang menarik, banyaknya derby musim ini adalah buah dari pergerakan promosi dan degradasi, bukan perancangan jadwal. Ini menunjukkan betapa cairnya peta sepak bola Inggris: klub-klub yang bertahun-tahun terpisah kasta bisa tiba-tiba berada di divisi yang sama, dan begitu pula sebaliknya. Derby Championship pun menjadi barometer bagaimana kekuatan lama beradaptasi dengan kenyataan baru.

Penutup

Musim 2026-27 menghadirkan kembali sejumlah rivalitas yang lama tidak tersaji, dan akhir pekan ini menjadi pembuka yang paling ditunggu. Millwall melawan West Ham di The Den dan Wolves melawan West Brom di Molineux sama-sama menyimpan sejarah panjang, luka lama, serta tekanan yang jauh melebihi laga liga biasa. Keduanya juga sarat statistik yang membuat prediksi hasil tidak pernah mudah.

Setelahnya, derby Lancashire dan South Wales masih menanti di kalender, menambah daftar akhir pekan yang akan memaksa para pendukung mengosongkan agendanya. Bagi para pemain dan pelatih, tantangannya sederhana namun sulit: memastikan bahwa yang dibicarakan setelah pertandingan hanya soal sepak bola di atas lapangan.