Skotlandia vs Makedonia Utara: Peluang Menang Pertama

Laga Skotlandia vs Makedonia Utara akan tersaji di Nacionalna Arena Toše Proeski, Skopje, pada Sabtu, 3 Oktober, pukul 19.45. Pertandingan Nations League ini menjadi kesempatan besar bagi pelatih kepala baru Timnas Skotlandia, Sebastien Pocognoli, untuk memetik kemenangan pertamanya. Pasalnya, dari dua laga yang sudah dilakoni, Skotlandia baru mengumpulkan satu poin dan belum sekalipun mencetak gol.

Tekanan bertambah karena debut kandang Pocognoli di Hampden Park berjalan jauh dari harapan. Bermain dengan sepuluh orang setelah kartu merah yang datang lebih awal, skuad asuhannya dikuasai Switzerland dan harus mengakui keunggulan lawan. Situasi itu membuat kunjungan ke Skopje bukan sekadar laga lanjutan, melainkan ujian nyata bagi arah baru yang sedang coba dibangun pelatih asal Belgia tersebut.

Dua Laga, Satu Poin: Modal Skotlandia vs Makedonia Utara

Rekap dua pertandingan pertama Pocognoli memang belum istimewa. Satu poin, nol gol, dan satu laga kandang yang rusak akibat kartu merah menjadi gambaran awal masa kepelatihannya. Alih-alih mendapatkan jawaban soal identitas permainan timnya, ia justru mewarisi lebih banyak pertanyaan yang menuntut penyelesaian cepat.

Melawan Switzerland, gawang Skotlandia kebobolan tiga kali. Gol pembuka Ricardo Rodriguez dinilai terlalu mudah tercipta, sementara gol ketiga lewat penyelesaian Zeki Amdouni terlihat melewati tubuh kiper. Kekalahan tersebut menegaskan bahwa masalah Skotlandia bukan hanya soal jumlah pemain di lapangan, tetapi juga ketajaman dan ketenangan di momen-momen krusial.

Karena itu, duel melawan Makedonia Utara yang berada di dasar klasemen Grup B1 menjadi momen yang sulit disia-siakan. Kemenangan tidak hanya dibutuhkan untuk memperbaiki posisi, tetapi juga untuk menjaga kepercayaan publik terhadap proyek baru Pocognoli. Tanpa hasil positif di Skopje, tekanan terhadap sang pelatih berpotensi membesar sebelum ia sempat membangun fondasi timnya.

Posisi Angus Gunn Mulai Dipertanyakan

Kiper Angus Gunn secara terbuka mengakui bahwa ia akan merasa kecewa ketika meninjau ulang gol-gol yang masuk ke gawangnya saat melawan Switzerland. Pemain berusia 30 tahun itu adalah pilihan utama Steve Clarke di Piala Dunia, dan setelahnya ia melanjutkan karier di Amerika Serikat bersama San Jose Earthquakes. Namun, awalan yang jauh dari mulus di klub barunya, dengan 23 gol kebobolan dalam 11 pertandingan, tampaknya turut terbawa ke tugasnya bersama timnas.

Mantan pemain dan kini pengamat, Andy Halliday, menilai gol pembuka Rodriguez berada di ketinggian bahu dan minim kecepatan sehingga seharusnya bisa diantisipasi. Kegagalan Gunn menahan bola itu disebutnya sebagai kesalahan yang sangat buruk. Sementara itu, meskipun gol kedua Switzerland dinilai pantas, penampilan kiper tersebut kembali tidak mengesankan pada gol ketiga yang melewati dirinya.

Pertanyaannya kini, apakah Pocognoli akan mengganti kiper pada laga Sabtu? Sejumlah opsi yang tersedia sebenarnya tidak jauh lebih meyakinkan:

  • Scott Bain bermain di Scottish Premiership bersama Falkirk.
  • Jon McCracken berkarier di League One Inggris bersama Bradford.
  • Liam Kelly belum sekalipun tampil selain dari bangku cadangan Rangers musim ini.

Meski demikian, Pocognoli sejauh ini tidak menghindari keputusan-keputusan besar. Pemanggilan skuad awalnya yang berani serta pemberian tiga debutan dalam dua pertandingan menunjukkan bahwa ia tidak takut mengambil risiko. Jadi, mengubah sosok di bawah mistar gawang di Skopje bukanlah hal yang mustahil baginya.

Gunn sendiri menyadari posisinya sedang diuji. “Itu tendangan-tendangan bagus, tetapi sebagai kiper, saya selalu kecewa ketika kebobolan,” ujarnya usai menghadapi Switzerland. Ia menambahkan akan meninjau kembali penampilannya untuk melihat apa yang bisa diperbaiki pada pertandingan berikutnya. Hanya saja, belum ada yang tahu pasti kapan kesempatan itu akan datang lagi.

Stephen Welsh Makin Sulit Disingkirkan

Di tengah ketidakpastian soal kiper, Pocognoli justru mendapat sedikit kejelasan mengenai komposisi lini belakangnya. Stephen Welsh, yang masuk sebagai pengganti, tampil sebagai salah satu pemain yang bisa dianggap menang meski timnya melewati malam kelam melawan Switzerland. Bek Swansea City itu menjalani debut dengan cukup tenang di Slovenia pada Sabtu, ketika ia ditempatkan di sisi kiri dari trio bek tengah.

Keputusan mencadangkannya pada Selasa sempat terasa mengecewakan, apalagi karena tempatnya diberikan kepada Luis Binks yang menjalani debut. Namun, kartu merah Jack Hendry memaksa Pocognoli mengubah susunan pemain, dan Welsh dikembalikan ke lapangan pada posisi yang lebih ia kenali, yaitu sisi kanan. Pada posisi itu pula ia kembali menunjukkan performa yang solid.

Bek mantan pemain Celtic dan Motherwell itu punya kombinasi atribut yang menguntungkan. Ia vokal, serbaguna, dan nyaman membawa bola dari belakang, sesuatu yang menjadi aset penting dalam gaya permainan Pocognoli. Dengan Hendry menjalani sanksi, peluang Welsh kembali masuk starting line-up pada Sabtu terlihat sangat besar.

Dilema Ben Gannon-Doak dan Formasi 3-4-1-2

Salah satu nama yang paling sering dibicarakan menjelang laga ini adalah Ben Gannon-Doak. Winger Bournemouth berusia 20 tahun itu belum pernah menjadi starter, tetapi dampaknya setiap kali masuk dari bangku cadangan terbilang mencolok. Halliday bahkan menyatakan akan sangat terkejut bila pemain muda tersebut tidak dimainkan sejak awal melawan juru kunci Grup B1 itu.

Masalahnya, tidak ada posisi yang benar-benar jelas untuknya dalam formasi 3-4-1-2 yang dipakai Pocognoli. Posisi wing-back tampak sebagai opsi paling masuk akal, tetapi insting bertahan Gannon-Doak tidak sama dengan Aaron Hickey atau Nathan Patterson. Artinya, memaksakan ia bermain di sana berisiko mengorbankan keseimbangan pertahanan tim.

Di sinilah Pocognoli dituntut lebih luwes. Ia sendiri mengaku fleksibel, tetapi sejauh ini bentuk formasi yang ia turunkan belum menunjukkan tanda-tanda penyesuaian tersebut. Pertanyaannya kemudian, apakah laga melawan Makedonia Utara adalah waktu yang tepat untuk mencoba Gannon-Doak di posisi wing-back demi menambah daya gedor?

John McGinn dan Kebutuhan akan Momen Besar

Gannon-Doak menawarkan ancaman serangan yang tidak banyak dimiliki pemain Skotlandia lain, dan ia akan sangat terbantu jika mendapat dukungan dari rekan-rekannya. Nama John McGinn pun otomatis muncul dalam perbincangan itu. Kapten Aston Villa tersebut memang memenangkan banyak pelanggaran saat melawan Switzerland, tetapi performanya belum meraih level terbaiknya seperti di klub.

Pocognoli jelas membutuhkan lebih banyak kontribusi dari tokoh sentral Tim Tartan itu, terlebih karena McGinn kini mengoleksi 91 caps dan sedang mendekati angka seratus. Sebagai wakil kapten, namanya juga ikut disebut dalam diskusi soal apakah sistem yang diterapkan saat ini cocok untuk Skotlandia. Namun, kemampuan McGinn menciptakan momen istimewa dan mendorong tim ke depan membuatnya sulit ditinggalkan begitu saja.

Ini menjadi keputusan berat berikutnya bagi Pocognoli. Mempertahankan McGinn berarti berharap sang pemain menemukan kembali performa terbaiknya bersama timnas. Menyingkirkannya, di sisi lain, berisiko menghilangkan satu-satunya pemain yang paling berpengalaman dalam membaca situasi penting.

Kieron Bowie dan Oli McBurnie Layak Dapat Kesempatan Lagi

Keputusan yang mungkin lebih sederhana adalah memberi Kieron Bowie kesempatan menjadi starter lagi. Penyerang Sassuolo itu dikorbankan hanya sekitar sepuluh menit setelah menjalani start pertamanya untuk Skotlandia, demi memberi ruang bagi Welsh di lini belakang. Pengorbanan tersebut jelas bukan cerminan kualitasnya, melainkan konsekuensi dari kartu merah yang mengubah rencana pertandingan.

Kemitraannya dengan Oli McBurnie sempat menunjukkan tanda-tanda menjanjikan selama kurang lebih 20 menit mereka bermain bersama di Slovenia. Sayangnya, tidak ada cukup waktu bagi keduanya untuk membangun chemistry lebih jauh ketika menghadapi Switzerland. Besar kemungkinan duet ini kembali diberi kesempatan untuk membuktikan sinerginya.

Jika ada keraguan soal kesiapan McBurnie bertarung, hal itu sepertinya sudah terjawab dalam dua laga terakhir setelah lima tahun absen dari timnas. Striker Hull City itu tampil sebagai penyerang tunggal dengan kerja keras yang patut diacungi jempol, menarik tim ke atas dan menjaga penguasaan bola. Yang disayangkan, Bowie sudah tidak berada di lapangan saat McBurnie memenangkan serangkaian flick-on di babak pertama.

Krisis Gol dan Rekor yang Mengintai

Pocognoli mewarisi salah satu persoalan terbesar yang juga membelit Steve Clarke, yaitu mencetak gol. Kini Skotlandia telah melalui empat pertandingan tanpa gol, dan mereka hanya berjarak 25 menit dari mencatatkan rekor baru yang tentu tidak diinginkan. Persoalan ini bukan sekadar soal ketajaman penyerang, tetapi juga soal penyediaan peluang dan keberanian mengambil keputusan di sepertiga akhir lapangan.

Pada periode 1970-71, Skotlandia pernah melewati 447 menit tanpa mampu menjebol gawang lawan. Saat ini, sudah 422 menit sepak bola berjalan sejak gol McGinn yang berbelok arah ke gawang Haiti di Boston. Angka itu menunjukkan bahwa persoalan gol bukan hal baru, melainkan luka lama yang belum benar-benar tersembuhkan.

Melawan Makedonia Utara, yang berada di posisi terbawah grup, menjadi panggung paling realistis untuk memutus paceklik tersebut. Namun, tekanan justru bertambah karena lawan dengan reputasi lebih lemah sering kali membuat tim seperti Skotlandia bermain kaku. Jika gol tetap tidak datang, pertanyaan soal arah serangan dan pilihan pemain akan semakin keras terdengar.

Penutup

Perjalanan Skotlandia di Nations League sejauh ini baru menghasilkan satu poin dan belum ada gol sama sekali. Duel di Skopje menjadi kesempatan Pocognoli untuk membuktikan bahwa perubahan arah yang ia usung bisa berbuah hasil nyata. Sejumlah keputusan besar menantinya, mulai dari posisi kiper, komposisi lini belakang, peran Gannon-Doak, hingga nasib McGinn dan duet Bowie-McBurnie di lini depan.

Jika ada waktu yang tepat untuk mengakhiri puasa gol dan meraih kemenangan pertama, laga melawan juru kunci grup ini adalah jawabannya. Kegagalan memanfaatkannya akan membuat tekanan terhadap Pocognoli dan timnya semakin berat pada laga-laga berikutnya.