Kasus Rangers 2012 Jadi Cermin Masa Depan Manchester City

Vonis bersalah Manchester City atas pelanggaran serius aturan keuangan Premier League memicu perburuan pembanding historis di kalangan pengamat sepak bola. Perhatian pun mengarah ke kasus Rangers pada 2012, satu-satunya contoh nyata di sepak bola Inggris Raya ketika sebuah klub raksasa harus memulai ulang perjalanannya dari dasar piramida liga. Perbandingan itu dianggap paling mendekati untuk membaca arah masa depan Manchester City, meskipun skala dan konteks keduanya jelas tidak identik.

Kasus Rangers 2012

Klub asal Ibrox tersebut mengalami kehancuran finansial yang berujung pada likuidasi, degradasi paksa, hingga kehilangan sebagian besar skuadnya dalam waktu singkat. Kisah itu meninggalkan luka panjang bagi sepak bola Skotlandia, mulai dari hilangnya derby Old Firm hingga kekhawatiran soal nilai hak siar liga. Namun, sebagaimana diuraikan BBC Scotland, kata “belum pernah terjadi sebelumnya” justru membuat perbandingan langsung antara City dan Rangers tetap sulit ditarik.

Apa yang Sebenarnya Menimpa Rangers pada 2012?

Kasus Rangers berakar pada skema Employee Benefit Trust (EBT) yang dijalankan selama kurang lebih satu dekade di sekitar pergantian milenium. Di bawah pemilik saat itu, Sir David Murray, klub membayarkan sejumlah dana ke EBT untuk para karyawannya, termasuk pemain, manajer, dan direktur. Total lebih dari £47 juta mengalir keluar dari trust tersebut kepada lebih dari 80 individu.

Pihak HM Revenue and Customs (HMRC) berpendapat bahwa pembayaran itu semestinya dikenai pajak sebagai penghasilan, sehingga Rangers dinilai berutang dalam jumlah besar kepada negara. Setelah proses pengadilan dan tribunal yang berlarut-larut, Mahkamah Agung akhirnya memutuskan berpihak kepada HMRC dalam sengketa penggunaan EBT. Putusan tersebut baru keluar lima tahun setelah perusahaan lama Rangers dilikuidasi.

Adapun persoalan Manchester City dibangun dari tuduhan yang berbeda sama sekali. Menurut Premier League, klub berjuluk The Citizens itu mengatur “kontrak palsu” dengan sejumlah mitra komersial sebagai bagian dari skema untuk menyamarkan dana lebih dari £830 juta. City dinyatakan bersalah atas seluruh dakwaan terkait pelanggaran berat aturan finansial liga pada musim 2009-10 hingga 2017-18, dan mereka telah mengajukan banding serta membantah melakukan kesalahan apa pun.

Sanksi, Gelar, dan Jalan Kembali ke Sistem Liga

Ketika ancaman sanksi berat membayangi City, publik kini menunggu babak berikutnya. Pada kasus Rangers, langkah masuk ke administrasi pada Februari musim 2011-12 otomatis memicu pengurangan 10 poin. Klub itu mengakhiri musim di peringkat kedua, tertinggal 20 poin dari Celtic yang keluar sebagai juara.

Tidak ada penalti tambahan yang dijatuhkan setelah itu, dan likuidasi menyusul pada Juni 2012. Rangers juga tidak pernah dicabut gelar-gelar yang mereka raih selama periode penggunaan EBT, karena skema tersebut dinilai tidak memberi mereka “keuntungan kompetitif yang tidak adil”.

Bagian yang paling rumit dan menjadi sumber perdebatan panjang di kalangan suporter adalah pembedaan antara Rangers sebagai klub dan Rangers sebagai perusahaan. Setelah likuidasi, aset sepak bolanya, termasuk Ibrox, pusat latihan, nama, dan merek, diambil alih oleh perusahaan baru yang dipimpin Charles Green. Meski tim tetap bermain di Ibrox dengan warna dan lambang yang sama, sindiran bahwa Rangers bukan lagi klub yang sama terus terdengar dari pendukung lawan di hampir setiap pertandingan.

Setelah Green membeli aset tersebut, digelar pemungutan suara untuk menentukan apakah Rangers boleh bertahan di kasta teratas. Sepuluh dari 12 klub divisi utama menolak permohonan itu, Kilmarnock memilih abstain, dan Rangers sendiri memberikan suara setuju. Rangers kemudian harus mengajukan diri untuk bermain di liga yang lebih rendah, yang saat itu dikelola Scottish Football League, badan terpisah dari kompetisi kasta atas yang ketika itu bernama Scottish Premier League. Situasi ini mirip dengan struktur di Inggris sekarang, di mana Premier League berdiri terpisah dari English Football League yang menaungi Championship, League One, dan League Two.

Ekspulsi dari Premier League memang sempat dibahas secara hipotetis sebagai salah satu bentuk sanksi bagi City. Jika itu terjadi, mereka harus mengajukan permohonan agar diterima di EFL, persis seperti langkah yang dilakukan Rangers terhadap SFL dulu. Asosiasi Sepak Bola Skotlandia sempat merekomendasikan Rangers masuk kasta kedua, tetapi usulan itu ditolak mayoritas klub SFL, dengan 25 dari 30 suara memilih agar Rangers turun ke kasta keempat.

Hak Siar, Derby, dan Risiko Bisnis Liga

Muncul kekhawatiran bahwa tanpa Rangers di kasta teratas, nilai kontrak hak siar akan terancam karena derby Old Firm hilang dari jadwal. Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar, sebab berkurangnya laga besar berpotensi menekan pendapatan klub-klub lain dan menempatkan mereka pada risiko finansial.

Neil Doncaster, chief executive liga saat itu, awalnya menggambarkan penurunan pendapatan siaran sebagai hal yang “kecil”. Meski demikian, ia mengakui bahwa “akan ada uang yang keluar dari industri ini akibat Rangers tidak berada di kasta teratas”. Pertanyaan serupa kini menggantung: seberapa besar dampaknya bagi Premier League jika laga Manchester derby ikut hilang dari kalender kompetisi?

Yang perlu dicatat, skenario degradasi bagi City baru sebatas wacana yang dibicarakan secara hipotetis. Sejauh ini belum ada keputusan resmi soal bentuk sanksi yang akan dijatuhkan, terlebih karena klub masih menjalani proses banding.

Perjalanan Ally McCoist dan Realita “Mulai dari Nol”

Manajer saat itu, Ally McCoist, memilih bertahan di posisinya setelah Rangers diturunkan. Ia memimpin tim melewati kasta keempat dan ketiga dengan relatif mulus, meski perjalanan itu jauh dari kata nyaman. McCoist belakangan menyebut situasi 2012 sebagai pengalaman yang “benar-benar mengerikan”, terutama karena banyaknya pemutusan hubungan kerja yang terjadi di dalam klub.

“Anda tidak sedang membicarakan penyerang tengah atau bek tengah Anda,” ujarnya kepada Talksport. “Ada salah satu staf senior yang menangis, bukan pemain, hanya seseorang yang punya pekerjaan kecil, karena dia kehilangan pekerjaannya. Itu memilukan.”

Di atas lapangan, McCoist mengenang perjalanan yang aneh tetapi “luar biasa” melewati liga-liga bawah, sekaligus memuji kesetiaan basis pendukung klub. “Saya tidak akan pernah lupa salah satu laga pembuka,” tambahnya. “Kami bermain melawan Brechin dan pertandingan tertunda karena bola tersangkut di atas pagar tanaman.” Ia juga bercerita pernah ditarik keluar dari bus tim oleh ketua Peterhead untuk berbicara kepada para penggemar di sebuah tenda, serta melakukan undian babak pertama di klub sosial sebelum timnya menghadapi Annan Athletic.

McCoist meninggalkan klub di tengah musim pertamanya di Championship, yang berakhir dengan kegagalan meraih promosi ketiga berturut-turut setelah kalah 6-1 secara agregat dari Motherwell di final play-off. Mark Warburton datang pada musim panas 2015 dan menjadi sosok yang membawa Rangers kembali ke Premiership. Dalam satu dekade berikutnya, hanya satu gelar liga yang datang, yakni di bawah asuhan Steven Gerrard pada musim 2020-21.

Mengapa Kasus Rangers Sulit Jadi Peta Jalan Masa Depan Manchester City

Menerjemahkan pengalaman Rangers menjadi gambaran bagi City bukan perkara mudah, mengingat kesenjangan finansial antara sepak bola Inggris dan Skotlandia sangat lebar. Bahkan ketika bermain di kasta keempat, anggaran yang dimiliki Rangers masih memungkinkan mereka merekrut sebagian talenta terbaik di Premiership Skotlandia. Kondisi itu terus berlanjut sepanjang perjalanan mereka menanjak kembali ke divisi atas.

Akan sangat sulit membayangkan City memikat pemain-pemain Premier League untuk ikut bergabung jika mereka mengalami degradasi berat. Persoalan itu bahkan baru permulaan, karena skuad mereka juga berpotensi tercerai-berai dalam waktu singkat. Perbedaan besarnya adalah, City setidaknya masih bisa mengantongi uang dari pemain yang pergi, sepanjang klausul kontrak memungkinkan hal itu.

Situasi Rangers jauh lebih pahit. Karena sifat permasalahannya, mereka kehilangan sejumlah pemain inti tanpa bisa mendapatkan sepeser pun. Nama-nama seperti Steven Davis, Steven Naismith, dan Allan McGregor termasuk di antara mereka yang mengajukan keberatan atas transfer ke “newco” atau perusahaan baru tersebut.

Penggemar City, Matt Mellor, sempat berkelakar bahwa ia “tidak sabar melihat Erling Haaland mencetak hat-trick melawan Grimsby” di League Two musim depan. McCoist tidak sependapat dengan nada ringan itu. “Ketika Anda turun ke sana, Anda efektif memulai dari nol, karena para pemain tidak akan bertahan,” kata legenda Rangers tersebut. “Jika yang Anda bicarakan adalah Manchester City, Anda memulai lagi. Anda resmi memulai dari awal.”

Yang Bisa Dipetik dari Dua Kisah Berbeda

Kasus Rangers menunjukkan bahwa kejatuhan sebuah klub besar tidak berhenti pada sanksi administratif semata. Ada rantai dampak yang panjang: kehilangan pemain tanpa kompensasi, tekanan pada nilai hak siar, hilangnya laga derby yang bernilai jual tinggi, hingga pemutusan hubungan kerja terhadap staf yang jauh dari sorotan kamera. Semua itu terjadi pada Rangers meski mereka tidak pernah dicabut gelarnya.

Bagi Manchester City, jalur yang akan mereka tempuh masih jauh dari jelas karena banding masih berjalan dan bentuk sanksi belum diputuskan. Apa pun hasilnya nanti, kisah Rangers 2012 tetap menjadi rujukan paling relevan untuk membayangkan masa depan Manchester City. Yang pasti, memulai kembali dari dasar bukan sekadar soal turun kasta, melainkan soal membangun ulang klub dari fondasi yang nyaris kosong.