Paul Green, Eks Bos Chelsea yang Kini Memulai Babak Baru

Paul Green, mantan kepala sepak bola wanita Chelsea, meninggalkan klub setelah 13 tahun dengan torehan 19 trofi mayor. Ia mengaku baru benar-benar menghargai kesuksesan itu setelah keluar, ketika medali-medalinya yang tersimpan di sebuah kotak di bawah tempat tidur akhirnya dibingkai. Kini Paul Green memulai babak baru sebagai chief football officer di klub San Francisco, Bay FC.

Kepergian Green pada Februari lalu sempat menjadi sorotan karena muncul laporan tentang ketegangan di jajaran petinggi Chelsea. Dalam wawancara dengan BBC Sport, ia memilih menyebut klub telah mengambil arah berbeda, tetapi menegaskan bangga dengan pekerjaannya dan meninggalkan Chelsea dalam kondisi jauh lebih baik daripada saat ia datang. Pernyataan itu memberi konteks penting: di balik dominasi Chelsea di sepak bola wanita Inggris, ada peran sosok di belakang layar yang jarang mendapat sorotan.

Paul Green

Paul Green dan 19 Trofi Mayor Chelsea

Selama memimpin departemen sepak bola wanita Chelsea, Green membangun fondasi yang membuat klub itu menjadi kekuatan utama di Women’s Super League (WSL). Chelsea meraih enam gelar WSL berturut-turut, dengan gelar terakhir datang di bawah pelatih saat ini, Sonia Bompastor, pada 2025. Klub juga menembus final Liga Champions Wanita pada 2021, tonggak yang menegaskan ambisi Chelsea untuk bersaing di level Eropa.

Green menyebut masa itu sebagai salah satu periode terbaik dalam hidupnya. Menurut dia, Emma Hayes menjual visi besar kepadanya, dan visi tersebut terbukti berjalan sesuai rencana. Ia menilai apa yang dicapai para pemain Chelsea sulit ditiru tim lain, terutama karena dominasi seperti itu tidak datang hanya dari kualitas individu, tetapi juga dari stabilitas organisasi dan keputusan-keputusan di luar lapangan.

Kemitraan dengan Emma Hayes dan Dinamika di Chelsea

Kesuksesan Chelsea tidak bisa dilepaskan dari kemitraan Green dengan Emma Hayes, mantan manajer yang menjadi wajah proyek sepak bola wanita klub. Green mengaku tertarik pada potensi yang dijual Hayes, lalu bekerja keras agar potensi itu menjadi kenyataan. Kombinasi visi pelatih dan dukungan struktur di belakang layar membantu Chelsea mengubah ambisi menjadi trofi demi trofi.

Namun, hubungan yang kuat di dalam tim tidak menghapus dinamika di level klub. Green meninggalkan Chelsea secara mendadak pada Februari di tengah laporan adanya gejolak di hierarki. Ia tidak merinci siapa pihak yang dimaksud, tetapi mengakui bahwa banyak orang di klub berubah dalam beberapa tahun terakhir dan Chelsea akhirnya memilih arah yang berbeda. Pernyataan ini menunjukkan bahwa keberhasilan di lapangan kadang berjalan seiring dengan perubahan prioritas di ruang rapat.

Dari Chelsea ke Bay FC, Tantangan Baru Paul Green

Setelah sekitar tujuh bulan absen dari sepak bola, Green diangkat sebagai chief football officer Bay FC pada September. Ia mengaku respons atas kepergiannya dari Chelsea sangat besar, terutama dari kalangan yang mengikuti sepak bola wanita, sehingga ia perlu waktu untuk menyesuaikan diri dan bersama keluarga. Ia juga menyebut masa tanpa struktur rutin menjadi bagian yang sulit setelah 13 tahun terbiasa dengan pola kerja tertentu.

Di Bay FC, Green masuk ke proyek yang dipimpin Kay Cossington, mantan direktur Asosiasi Sepak Bola (FA) Inggris, dan berada di bawah kepemilikan multi-klub Bay Collective. Ia tertarik karena klub menjual visi yang jelas dan menawarkan peluang membangun sesuatu yang istimewa. Menurut Green, ada kemiripan antara Bay FC saat ini dan masa-masa awal Chelsea ketika fondasi masih dibentuk.

Klub akan pindah ke fasilitas latihan baru tahun depan, dan Green berjanji bergerak di bursa transfer untuk memperbaiki posisi tim. Bay FC saat ini berada di peringkat ketiga dari bawah dengan tiga pertandingan tersisa di musim NWSL 2026. Green menilai tim belum tampil sesuai harapan, sehingga perbaikan skuad menjadi kebutuhan mendesak, sambil tetap membenahi infrastruktur di luar lapangan seperti staf dan fasilitas.

Solusi untuk Talenta Muda Inggris

Selama di Chelsea, Green mengawasi perkembangan sejumlah pemain Inggris, termasuk Aggie Beever-Jones dan Lexi Potter. Potter baru menjalani debut bagi Inggris dalam kemenangan 5-0 atas Yunani pekan lalu, sementara Beever-Jones menjadi bagian skuad yang menjuarai Euro 2025. Kisah mereka menunjukkan bahwa jalur pembinaan yang baik bisa menghasilkan pemain muda berkualitas.

Meski begitu, ada kekhawatiran soal masa depan pemain muda Inggris karena waktu bermain bagi talenta homegrown makin berkurang dalam beberapa tahun terakhir. Green menilai pemain tetap butuh paparan kompetisi, dan salah satu cara yang ia terapkan di Chelsea adalah program pinjaman yang sehat. Klub perlu menemukan partner yang tepat untuk mengembangkan pemain; jika sumber daya itu tidak ada, pemain muda mungkin harus mencari pengalaman di luar negeri.

Green juga menyoroti usulan tim B yang sudah berjalan di sejumlah liga Eropa, termasuk Jerman dan Spanyol. Ia menduga tim semacam itu bisa membantu jika masuk di level tiga piramida sepak bola Inggris, meski ia sadar usulan tersebut kontroversial. Pandangan ini relevan karena Direktur Sepak Bola Wanita FA Sue Day menilai masalah waktu bermain pemain muda perlu ditangani, dan pelatih Inggris Sarina Wiegman juga menyatakan kekhawatirannya.

Perjalanan Paul Green menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah klub tidak hanya ditentukan oleh pelatih dan pemain di lapangan. Keputusan di belakang layar, pembinaan talenta, dan visi jangka panjang sama pentingnya dalam membangun dominasi seperti yang pernah dinikmati Chelsea. Warisan 19 trofi itu kini menjadi bekal berharga saat ia mencoba mengulang pola serupa di Bay FC.

Bagi Chelsea, kepergian Green menandai babak baru; bagi Green, Bay FC adalah kesempatan membangun proyek dari titik yang berbeda. Sementara itu, perdebatan soal waktu bermain pemain muda Inggris akan terus menjadi pekerjaan rumah bersama bagi FA, klub, dan liga. Apa yang terjadi berikutnya akan menunjukkan apakah pelajaran dari Chelsea bisa diterapkan di liga yang berbeda.