Marink Reedijk Debut Pahit, Hibernian Kalah di Dundee

Marink Reedijk mengawali kiprahnya sebagai manajer Hibernian dengan hasil yang mengecewakan. Pada laga perdananya di kompetisi domestik Skotlandia, Hibs harus mengakui keunggulan Dundee United dengan skor tipis 1-0 di Stadion Tannadice. Kekalahan itu terasa semakin pahit karena menjadi pertandingan pertama Reedijk setelah cukup lama tidak merasakan kalah di kompetisi liga.

Hasil tersebut sekaligus memberi gambaran awal tentang besarnya tugas yang diemban pelatih asal Belanda ini di Easter Road. Reedijk datang dengan reputasi mengesankan setelah membawa SK Beveren menjuarai divisi kedua Belgia tanpa pernah kalah sepanjang musim lalu. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa perjalanannya bersama Hibernian tidak akan berjalan mulus, terutama karena sejumlah persoalan lama tim masih membelit.

Jalannya Laga: Gol Daniel Bennie dan Kartu Merah Devaney

Satu-satunya gol dalam pertandingan itu lahir dari kaki Daniel Bennie pada menit ke-35. Pemain tuan rumah tersebut mampu memaksimalkan situasi di depan gawang Hibs untuk membawa Dundee United unggul. Gol itu bertahan hingga peluit akhir dan menjadi penentu hasil laga.

Situasi Hibernian bertambah berat menjelang akhir pertandingan. Gelandang pinjaman dari Manchester United, Jacob Devaney, harus diusir dari lapangan karena dianggap menghalangi Neil Farrugia yang sedang menuju peluang mencetak gol. Akibatnya, Hibs harus bermain dengan sepuluh pemain di fase penutup, sehingga semakin sulit mengejar ketertinggalan.

Reedijk menyampaikan kekecewaannya karena tidak mampu memberi hasil terbaik bagi para pendukung yang datang jauh-jauh. “Hal yang paling membuat frustrasi adalah 2.500 orang datang jauh-jauh dari Edinburgh dan kami tidak bisa memberikan apa yang saya harapkan,” ujar Reedijk kepada BBC Scotland. Ia menegaskan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan di klub tersebut.

Rekam Jejak Marink Reedijk dan Warisan Tiga Bek David Gray

Sebelum menangani Hibernian, Reedijk menorehkan prestasi membanggakan bersama SK Beveren di Belgia. Ia membawa klub itu meraih gelar juara divisi kedua tanpa sekalipun merasakan kekalahan sepanjang musim. Rekam jejak itulah yang membuat manajemen Hibs yakin bahwa ia mampu membawa perubahan bagi tim.

Perubahan yang diusung Reedijk terlihat dari pilihan formasinya. Ia menerapkan skema empat pemain belakang, berbeda dengan pendahulunya, David Gray, yang lebih memilih tiga bek. Pergeseran gaya ini menuntut penyesuaian bagi para pemain yang sudah terbiasa dengan sistem sebelumnya.

Dengan formasi empat bek, lini serang Hibs justru tampak kesulitan mengubah peluang menjadi gol. Laga di Tannadice menjadi pertandingan keempat musim ini di mana mereka gagal mencetak gol. Hal ini menegaskan bahwa persoalan di lini depan belum sepenuhnya teratasi meski ada pergantian pelatih.

Dampak bagi Hibernian: Masalah Ketajaman dan Posisi Klasemen

Reedijk sendiri mengakui bahwa persoalan utama timnya terletak pada penyelesaian akhir. “Jika diringkas, ini soal ketidaktepatan dan keraguan menjelang sepertiga akhir lapangan dan di dalamnya,” ujarnya. Ia menyoroti bagaimana timnya kehilangan bola dengan ceroboh sehingga membuka ruang bagi lawan untuk melakukan serangan balik.

Menurut Reedijk, keraguan yang muncul setelah kehilangan bola membuat performa tim menurun. Ia mengakui bahwa Hibs sebenarnya mengawali laga dengan baik dan berusaha keras menciptakan peluang. Namun, momen-momen kecil serta detail dalam bertahan, termasuk saat kebobolan, menjadi penentu hasil pertandingan.

Ada sejumlah momen menjanjikan yang sempat diperlihatkan Hibs. Rangkaian serangan apik dengan Callum Wright sebagai motor hampir menghasilkan gol bagi Josh Mulligan. Selain itu, pemain baru Rabbi Matondo sempat menghidupkan lini serang Hibs pada paruh kedua. Meski begitu, Dundee United selalu tampak mampu menambah gol karena longgarnya lini pertahanan Hibs.

Statistik pertandingan memperkuat gambaran tersebut. Tuan rumah tercatat melepaskan 17 tembakan, dengan 10 di antaranya berasal dari dalam kotak penalti Hibernian. Nilai expected goals Dundee United mencapai 1,68 sepanjang 90 menit, menandakan efektivitas serangan mereka. Kekalahan ini pun membuat Hibs tertahan di posisi kesepuluh klasemen Premiership.

Pandangan James McFadden: Kesabaran yang Dibutuhkan

Mantan pemain internasional Skotlandia, James McFadden, menilai bahwa perubahan gaya permainan yang dilakukan Reedijk memerlukan waktu. Ia menjelaskan bahwa peralihan dari sistem tiga bek ke formasi 4-2-3-1 menuntut penyesuaian besar dari para pemain. Dalam analisisnya di Sportscene, McFadden menyebut bahwa permainan skema tiga bek lebih menekankan kerja keras dan umpan silang, sementara formasi baru meminta pemain sayap lebih aktif menembus pertahanan.

Meski demikian, McFadden mengaku menyukai sikap Reedijk yang kecewa karena para pemainnya belum mampu menjalankan instruksi secara langsung. Menurutnya, perubahan gaya dari satu pendekatan ke pendekatan lain memang butuh proses. Ia tidak mempermasalahkan rasa ketidakpuasan yang ditunjukkan sang pelatih.

Konteks Lebih Luas: Masa Depan Hibernian Musim Ini

Terlepas dari posisi klasemen yang kurang menggembirakan, McFadden yakin Hibernian tidak akan terpuruk di dasar klasemen dalam waktu lama. “Hibs tidak akan berada dalam masalah di akhir musim, sama sekali tidak,” tegasnya. Ia bahkan menilai tim akan tetap aman meski David Gray masih menangani klub.

McFadden menambahkan bahwa para pendukung Hibernian menginginkan tim yang menang sekaligus menang dengan cara yang meyakinkan. Tuntutan seperti itu memang sulit dipenuhi dengan cepat, tetapi itulah alasan manajemen melakukan pergantian pelatih. Ia menilai tuntutan tinggi yang diterapkan Reedijk sejak awal bisa memakan waktu untuk benar-benar terwujud.

Kekalahan 1-0 di Tannadice menjadi awal yang berat bagi Marink Reedijk di Hibernian. Berbagai persoalan lama, terutama ketajaman lini depan dan transisi gaya bermain, masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan. Meski begitu, sejumlah pengamat menilai waktu dan kesabaran menjadi kunci sebelum menilai hasil kerja sang pelatih secara utuh.

Bagi para pendukung Hibs, perjalanan musim ini masih panjang. Jika Reedijk mampu menuangkan ide-idenya dengan baik, bukan tidak mungkin Hibernian akan bangkit dan meninggalkan posisi kesepuluh yang kini mereka tempati.