Hibs kini berada di dasar klasemen Scottish Premiership setelah dua laga awal Marink Reedijk berakhir tanpa poin. Kekalahan 2-1 dari Falkirk di Easter Road membuat mereka terpuruk, sekaligus memicu cemoohan suporter saat laga usai. Reedijk mengaku merasakan “perasaan mual” di perutnya—tanda bahwa masa bulan madunya sebagai manajer baru sudah berakhir.
Posisi terbawah ini menjadi sorotan karena musim baru berjalan sekitar seperempat, tetapi Hibs belum menunjukkan tanda-tanda bangkit. Tim belum menang dalam enam laga liga terakhir dan telah lebih dari enam bulan tidak merayakan kemenangan Premiership di depan pendukung sendiri. Dengan jadwal berat melawan Celtic dan Hearts di semifinal Piala Nasional di Hampden, tekanan terhadap Reedijk, pemain, dan manajemen semakin besar.

Dua Kekalahan Awal Menempatkan Hibs di Zona Degradasi
Reedijk, 35 tahun, datang ke Hibs dengan rekam jejak mengantar Beveren promosi ke divisi teratas Belgia lewat musim tak terkalahkan. Namun, dua pertandingan pertamanya di Scottish Premiership berakhir dengan kekalahan, dan Hibs kini menempati posisi juru kunci. Kekalahan kandang dari Falkirk menjadi pukulan tambahan karena suporter sudah menyuarakan kekecewaan secara terbuka.
Setelah pertandingan, Reedijk menegaskan bahwa ia tidak ingin timnya berada di posisi tersebut. Ia menilai performa melawan Falkirk sebenarnya tidak pantas berakhir tanpa poin, tetapi tetap mengakui posisi terbawah adalah kenyataan yang harus dihadapi. Menurutnya, tugas tim sekarang adalah terus bekerja, memperbaiki kesalahan kecil, dan membangun momentum agar hasil mulai berubah.
Rasa mual yang disebut Reedijk bukan tanpa sebab. Hibs baru mengumpulkan satu poin dari enam laga terakhir, dan catatan itu membuat mereka tertinggal dari tim-tim lain di papan bawah. Dalam konteks kompetisi yang ketat, start buruk seperti ini bisa membuat perburuan menghindari degradasi dimulai jauh lebih awal dari perkiraan banyak orang.
Latar Belakang: Warisan David Gray dan Catatan Buruk di Kandang
Krisis Hibs tidak sepenuhnya lahir di tangan Reedijk. Ia baru beberapa minggu menangani tim, sementara masalah performa sudah terlihat sejak akhir masa kepemimpinan David Gray. Di bawah Gray, Hibs sempat finis di enam besar dua musim beruntun—prestasi pertama sejak akhir 2000-an—dan hanya beberapa menit dari lolos ke fase grup kompetisi Eropa sebelum runtuh di kandang melawan Gent.
Namun, tren di awal musim ini memperlihatkan kerentanan yang lebih dalam. Hibs kalah enam kali dari tujuh laga Premiership terakhir di kandang, dan belum menang dalam enam pertandingan liga. Karena itu, masalahnya bukan sekadar sentuhan taktis seorang manajer baru, melainkan kombinasi antara kepercayaan diri yang rapuh, kualitas skuad, dan kebiasaan buruk yang sulit dihilangkan.
Dampak Hibs di Zona Degradasi: Tekanan pada Reedijk dan Skuad
Dampak paling langsung terlihat pada posisi Reedijk. Ia harus menjaga pemain dan suporter tetap percaya pada proyeknya sambil menyeret tim keluar dari zona degradasi. Tugas itu menjadi lebih rumit karena dua dari tiga pertandingan berikutnya menghadapi Celtic dan Hearts, dengan laga Hearts berlangsung di semifinal Piala Nasional di Hampden sehari setelah Halloween.
Tekanan juga datang dari pengamat. Mantan gelandang Hibs, Michael Stewart, menilai masih banyak pertanyaan yang belum terjawab karena tim masih mencari sistem, personel, dan kombinasi yang tepat. Sementara itu, mantan penyerang Hearts, Ryan Stevenson, menyebut Hibs tampak kacau dan mengingatkan bahwa kemenangan Kilmarnock membuat mereka bisa melewati Hibs di klasemen. Menurut Stevenson, Hibs butuh hasil cepat sebelum situasi memburuk.
Di level manajemen, sorotan mengarah ke peran direktur olahraga Malky Mackay dan kepemilikan klub. Sebagian suporter menilai rekrutmen dalam beberapa jendela transfer terakhir melemahkan skuad, bukan memperkuatnya. Mereka juga khawatir pergantian manajer tidak akan cukup jika masalah perekrutan dan struktur klub tidak segera dibenahi.
Tanda Positif di Balik Kekalahan dari Falkirk
Meski hasilnya buruk, ada beberapa angka yang bisa menjadi bahan evaluasi positif bagi Reedijk. Hibs menguasai bola sekitar 70 persen, melepaskan 17 tembakan berbanding 10 milik Falkirk, dan lebih sering masuk ke sepertiga akhir lapangan. Mereka juga mencatat lebih banyak sentuhan di kotak penalti lawan serta expected goals lebih tinggi, yaitu 1,35 berbanding 0,76.
Masalahnya, penguasaan bola tidak berbanding lurus dengan ketajaman. Falkirk justru mencatat lebih banyak tembakan tepat sasaran—lima berbanding tiga—dan Hibs kembali terjebak dalam kesalahan individu serta kegagalan memanfaatkan peluang. Reedijk sendiri menegaskan bahwa timnya perlu bekerja lebih keras, mempertahankan pola permainan, mengurangi kesalahan, dan lebih efisien di depan gawang.
Bagi dunia luar, statistik yang paling penting tetap skor akhir. Dengan hanya satu poin dari 18 poin yang tersedia, Hibs tidak bisa berlindung di balik angka penguasaan bola. Meskipun Halloween masih sekitar dua pekan lagi dan pembicaraan degradasi terasa dini, posisi dasar klasemen membuat kekhawatiran itu wajar.
Konteks Lebih Luas: Suara Fans dan Ujian Berikutnya
Suara suporter pun terbelah. Ada yang menyalahkan skuad dan menilai kualitas pemain terus menurun tiap jendela transfer, ada pula yang menyoroti kesalahan individu dan meminta para pemain senior tampil sebagai pemimpin. Sebagian fans bahkan menilai para pemain turut bertanggung jawab atas pemecatan David Gray, sementara yang lain menuntut perubahan di kursi manajemen dan kepemilikan klub.
Komentar keras juga muncul dari pendukung yang khawatir Hibs akan terseret ke jurang degradasi. Mereka menilai performa tim belum cukup untuk bersaing, dan kekalahan beruntun bisa membuat posisi Reedijk cepat goyah. Meski demikian, sebagian pengamat menilai margin antara Hibs dan tim di atasnya masih tipis, sehingga beberapa hasil positif bisa mengubah situasi dengan cepat.
Ujian berikutnya akan menjadi penentu arah musim Hibs. Menghadapi Celtic dan Hearts—dengan laga Hearts di Hampden—adalah jadwal yang bisa memperburuk krisis atau justru menjadi titik balik. Jika Hibs mampu meraih hasil mengejutkan, tekanan bisa sedikit mereda dan peluang menuju final Piala Nasional tetap terbuka.
Pada akhirnya, Hibs tidak hanya kehilangan poin, tetapi juga kepercayaan diri dan kestabilan. Reedijk perlu mengubah penguasaan bola menjadi gol, mengurangi kesalahan individu, dan menjaga ruang ganti tetap solid di tengah tekanan. Hasil dalam tiga laga berikutnya akan menentukan apakah perasaan mual sang manajer berubah menjadi keyakinan atau justru memperdalam krisis di zona degradasi.