FAI Selidiki Dugaan Rasisme terhadap Striker Adam Idah

Asosiasi Sepak Bola Irlandia (FAI) tengah menyelidiki dugaan rasisme Adam Idah, penyerang tim nasional Republik Irlandia, yang diduga mendapat pelecehan rasial dari pendukung Israel dalam laga UEFA Nations League, Minggu lalu. Pada pertandingan tersebut, Republik Irlandia menang 3-0 dan Idah mencetak gol kedua timnya.

Penyelidikan ini dibuka setelah muncul informasi bahwa gelandang Jayson Molumby meminta ofisial pertandingan untuk menyimak apa yang dia yakini sebagai nyanyian kasar dari sebagian kecil fans Israel yang hadir di stadion. Kasus dugaan rasisme Adam Idah menjadi penting karena tidak diproses melalui jalur resmi UEFA, sehingga FAI harus bergerak sendiri mengumpulkan bukti agar tuduhan itu bisa ditindaklanjuti dengan semestinya.

Kronologi Dugaan Pelecehan yang Memicu Penyelidikan

BBC Sport memahami bahwa Molumby berbicara kepada ofisial pertandingan saat laga masih berjalan. Ia meminta mereka mendengarkan nyanyian yang ia duga kasar dan mengarah kepada Idah, yang datang dari sebagian kecil pendukung Israel di stadion. Permintaan itu disampaikan langsung di tengah pertandingan, bukan setelahnya.

Setelah peluit panjang berbunyi, para ofisial justru memberi tahu staf FAI bahwa mereka tidak mendengar adanya nyanyian rasis. Pernyataan itu menjadi titik awal mengapa kasus ini tidak langsung naik ke ranah investigasi resmi. Dari situ, FAI merasa perlu menelusuri sendiri apa yang sebenarnya terjadi.

Ketika FAI menanyakan soal dugaan insiden tersebut kepada delegasi pertandingan UEFA, mereka diberi penjelasan bahwa karena tidak ada laporan dugaan rasisme yang jelas selama pertandingan, protokol normal tidak dijalankan. Akibatnya, UEFA menyatakan tidak dapat melakukan investigasi. Situasi ini membuat FAI berada di posisi harus membuktikan sendiri dugaan tersebut sebelum bisa meminta badan sepak bola Eropa itu turun tangan.

Langkah FAI Mengumpulkan Bukti Rekaman dan Audio

FAI kini menjalankan penyelidikan internal dengan mengumpulkan rekaman pertandingan berkualitas tinggi, termasuk audio dari mikrofon yang dipasang di tepi lapangan. Rekaman itu diharapkan bisa memastikan apakah benar ada pelecehan yang diarahkan kepada Idah. Upaya ini menjadi krusial karena tanpa bukti yang kuat, tuduhan sulit diteruskan ke UEFA.

Sebuah panel sedang dibentuk oleh FAI untuk menganalisis rekaman video dan audio tersebut. Jika panel menilai terdapat bukti yang mengarah pada dugaan pelecehan terhadap Idah, FAI akan mengajukan keluhan resmi kepada UEFA. Mereka juga akan meminta badan pengatur sepak bola Eropa itu membuka investigasi lanjutan atas insiden yang dimaksud.

Idah sendiri disebut tidak menyadari kemungkinan adanya pelecehan selama pertandingan berlangsung. Saat ini ia mendapat dukungan dari rekan-rekan setim dan staf, menjelang tiga laga sisa Republik Irlandia pada jeda internasional kali ini. Dukungan itu dinilai penting agar kondisi mental pemain tetap terjaga di tengah sorotan yang membesar.

Mengapa Laga Ini Sangat Sensitif

Pertandingan digelar di Kota Debrecen, Hungaria, dengan sekitar 300 pendukung Israel hadir di stadion. Tidak ada tiket yang dijual untuk fans Irlandia, meski sejumlah kecil dari mereka tetap berhasil masuk. Kondisi ini membuat atmosfer laga jauh dari suasana pertandingan biasa.

Laga sempat diragukan menjelang kick-off, menyusul gelombang protes dari penggemar dan politikus Irlandia yang menolak menghadapi Israel. Pembahasan di dalam skuad juga berlangsung hingga malam, termasuk soal apakah para pemain tetap memenuhi jadwal pertandingan atau tidak. Keputusan akhirnya adalah tetap bertanding, dan Idah menyumbang satu gol dalam kemenangan 3-0 tersebut.

Sebelum pertandingan dimulai, kedua tim tidak melakukan jabat tangan atau bertukar panji. Para pemain Irlandia juga menundukkan kepala saat lagu kebangsaan Israel dikumandangkan, sebuah sikap yang menegaskan jarak antara kedua kubu. Setelah mencetak gol ketiga, winger Jack Moylan mengangkat dan mencium ban lengan hitam yang dikenakan para pemain Republik Irlandia sebagai “penghormatan atas semua nyawa yang hilang dalam konflik”.

Kiper Gavin Bazunu memilih mundur dari skuad setelah rapat panjang di hotel, ketika pertandingan tampak berada di ujung tanduk karena sesi latihan dan konferensi pers pra-laga berulang kali ditunda. Dalam pernyataan di media sosial, Bazunu menyebut dirinya sebagai orang yang memegang prinsip dan keyakinan kuat. “Saya merasa akan salah untuk ikut ambil bagian dalam laga melawan Israel,” ujarnya. Bazunu kemudian kembali ke skuad untuk pertandingan melawan Austria di Dublin pada Kamis, tetapi akan absen lagi pada laga kedua melawan Israel.

Implikasi bagi FAI, Idah, dan UEFA

Bagi FAI, penyelidikan ini menjadi ujian kredibilitas karena mereka harus membuktikan komitmen melindungi pemain tanpa melanggar prosedur UEFA. Bila bukti yang dikumpulkan panel cukup kuat, tekanan publik akan mengarah kepada UEFA untuk menindaklanjuti. Sebaliknya, jika tidak ada bukti yang meyakinkan, posisi FAI bisa jadi sulit dipertanggungjawabkan di hadapan penggemar dan pemain.

Bagi Idah, situasi ini menempatkannya di pusat perhatian yang tidak ia pilih sendiri. Ia dilaporkan tidak mengetahui adanya dugaan pelecehan saat pertandingan berlangsung, namun kini justru menjadi tokoh utama dalam proses penyelidikan. Dukungan staf dan rekan setim menjadi penopang penting agar fokusnya tetap pada tiga laga sisa pada jeda internasional ini.

Belum jelas apakah FAI akan menyampaikan kasusnya kepada UEFA sebelum atau sesudah laga tertutup melawan Israel di Backa Topola, Serbia, pada Minggu mendatang. Waktu penyampaian ini penting karena bisa memengaruhi cara UEFA menangani laporan. BBC Sport telah menghubungi UEFA untuk meminta komentar terkait perkembangan ini.

Konteks Lebih Luas dan Apa yang Mungkin Terjadi

FAI sebelumnya memilih tetap memainkan laga ini setelah khawatir akan sanksi, termasuk denda hingga pengusiran dari kompetisi, jika memutuskan memboikot pertandingan. Laga kedua di Serbia pada Minggu mendatang berstatus sebagai pertandingan kandang Republik Irlandia, tetapi dipindahkan ke sudut terpencil Eropa karena protes fans terhadap keputusan FAI. Situasi ini menunjukkan betapa rumitnya posisi Irlandia dalam jadwal yang sudah terlanjur berjalan.

Irlandia tercatat sebagai salah satu negara Eropa yang paling vokal menunjukkan dukungan terhadap Palestina sejak dimulainya serangan militer Israel di Gaza pada Oktober 2023. Menurut kementerian kesehatan yang dikelola Hamas, lebih dari 73.000 orang tewas dalam serangan tersebut, dan angka itu dianggap kredibel oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Latar belakang ini membuat setiap pertemuan antara Republik Irlandia dan Israel selalu dibayangi ketegangan di luar lapangan.

FAI juga telah meminta UEFA agar Republik Irlandia dan Israel tidak dipertemukan lagi dalam undian-undian berikutnya. Permintaan itu mencerminkan keinginan FAI menghindari situasi serupa terulang. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan UEFA sebagai pengatur kompetisi.

Kapten Israel, Manor Solomon, memberi tanggapan tajam menjelang laga berikutnya. “Saya menunggu pertandingan berikutnya melawan mereka, ini akan jadi pertandingan yang benar-benar berbeda,” katanya. Ia menyebut pihaknya tidak tertarik pada Irlandia dan mengklaim negaranya sepuluh kali lebih baik, lebih kuat, serta menegaskan kebanggaan mereka memakai seragam tim dan menjadi orang Israel. Solomon juga menyatakan bahwa Irlandia jelas membenci mereka, dan sebaliknya mereka tidak menyukai Irlandia.

Penutup

Dugaan rasisme Adam Idah menyisakan persoalan yang belum tuntas: tanpa laporan yang jelas saat pertandingan berlangsung, jalur investigasi UEFA tertutup, sehingga FAI harus mengandalkan rekaman video dan audio yang sedang dianalisis panel bentukan mereka. Hasil analisis itu akan menentukan apakah kasus ini berlanjut ke tingkat Eropa atau berhenti di ranah internal. Sementara itu, tensi antara kedua tim dan para pendukung tetap tinggi menjelang laga kedua di Serbia.

Bagi publik sepak bola, kasus ini menegaskan bahwa protokol resmi sering kali belum cukup menjangkau dugaan pelecehan yang terjadi di lapangan. Apa pun hasil penyelidikan FAI nanti, perhatian kini tertuju pada dua hal: keadilan bagi Idah dan kesiapan UEFA merespons persoalan yang beririsan dengan konflik politik yang jauh lebih besar.