Alex Scott memutuskan mundur dari tim liputan Liga Champions Wanita di Disney+ hanya setelah dua putaran pertandingan berjalan. Kepergian presenter sekaligus mantan pemain tim nasional Inggris itu langsung memantik pertanyaan yang jauh lebih besar: apakah ini sekadar persoalan pribadi, atau cermin dari masalah struktural dalam liputan sepak bola wanita di tengah lanskap media yang terus bergerak?
Keputusan tersebut diambil pada musim kedua kerja sama Disney+ dengan kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa itu. Raksasa layanan streaming tersebut terikat kontrak lima tahun dan musim ini memperkenalkan sejumlah format baru, termasuk program watchalong dengan Scott yang bergantian membawakan acara bersama Shebahn Aherne. Namun berbagai kendala teknis dan kritik atas buruknya malam pembuka membuat sorotan tidak hanya tertuju pada sosok Scott, melainkan juga pada cara penyiar besar memperlakukan sepak bola wanita.

Alasan di Balik Kepergian Scott Masih Menyisakan Tanda Tanya
Hingga kini belum ada penjelasan rinci mengenai alasan di balik keputusan Scott. Ia tidak mengungkapkan penyebabnya secara terbuka, tetapi kepada BBC Sport menyatakan dirinya “bersyukur” atas kesempatan yang ia dapat selama berada di Disney+ dan berharap kedua pihak bisa “terus bekerja sama” di masa depan. Pernyataan itu terdengar hangat, namun justru menyisakan ruang tafsir karena tidak menyinggung sama sekali soal kendala teknis maupun kritik yang sempat muncul.
Yang membuat kepergiannya terasa lebih berat adalah posisinya sebagai salah satu wajah paling dikenal dalam penyiaran sepak bola wanita di Inggris. Scott bukan sekadar presenter, melainkan figur yang telah membangun kredibilitas dari pengalaman bermainnya di level tertinggi. Ketika sosok sekaliber itu memilih mundur setelah hanya dua putaran pertandingan, publik otomatis bertanya apakah ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi di balik layar.
Pihak Disney+ sendiri sedang menempuh musim kedua dari komitmen jangka panjangnya terhadap kompetisi elit Eropa tersebut. Sebagai pendatang baru di ruang penyiaran sepak bola wanita, mereka dituntut membuktikan bahwa investasi besarnya sepadan dengan kualitas produksi yang dihasilkan. Tekanan untuk tampil mulus sejak awal musim pun menjadi sangat besar.
Malam Pembuka yang Ternoda Masalah Teknis
Masalahnya bukan hal yang tiba-tiba muncul tanpa jejak. Malam pembuka musim ini tercatat sebagai salah satu momen paling bermasalah, ketika sebuah jeda iklan tak terjadwal tayang di tengah laga Arsenal melawan HB Koge. Kejadian itu menuai kritik keras dari penonton yang merasa terganggu oleh kesalahan yang seharusnya bisa dihindari.
Selain insiden iklan tersebut, siaran Disney+ juga diwarnai sejumlah kendala teknis lain yang membuat pengalaman menonton tidak berjalan mulus. Bagi kompetisi sekelas Liga Champions Wanita, gangguan semacam itu tentu menjadi catatan serius. Penonton yang baru mulai tertarik pada sepak bola wanita bisa langsung kehilangan minat ketika produk yang disajikan terasa belum matang.
Rangkaian persoalan itu penting dicatat karena kepergian Scott tidak terjadi di ruang kosong. Ia datang setelah musim pembuka yang dinilai berat dan penuh kritik. Apa pun alasan sebenarnya, konteks tersebut membuat kepergiannya sulit dibaca sebagai peristiwa tunggal yang berdiri sendiri.
Persoalan Sebenarnya: Penyiar Tidak Yakin Siapa Penontonnya
Jurnalis Carrie Dunn, yang telah meliput olahraga wanita lebih dari dua dekade, menilai berbagai perdebatan soal kualitas siaran sebenarnya mencerminkan ketegangan mendasar di dalam industri ini. Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi penyiar adalah mereka belum benar-benar memahami siapa yang menonton. “Banyak konten diarahkan untuk generasi baru dan jelas bukan untuk orang-orang yang sudah lama menonton sepak bola wanita,” ujarnya.
Dunn juga menyoroti persoalan sumber daya yang jarang dibicarakan terbuka. Anggaran yang terus dipangkas membuat penyiar cenderung memakai presenter dan pundit yang sama untuk berbagai acara, dengan harapan mereka bisa memenuhi selera semua kalangan. Menurutnya, pendekatan semacam itu justru tidak berhasil karena mencoba menjadi segalanya untuk semua orang.
Dilema ini menuntut keseimbangan yang rumit. Penyiar perlu menjelaskan konteks kepada penggemar baru tanpa terkesan menggurui penonton lama yang sudah mengikuti sepak bola wanita sejak jauh sebelum popularitasnya meledak. Dunn menegaskan bahwa penyiar besar belum menemukan solusi untuk persoalan tersebut.
BBC dan Pergeseran Besar dari Televisi Linear
Persoalan yang sama juga terlihat pada langkah BBC. Pada musim panas lalu, lembaga penyiaran publik itu mengumumkan bahwa program cuplikan Women’s Super League tidak akan kembali pada musim 2026-27. Keputusan ini memicu kekhawatiran bahwa sepak bola wanita kembali kehilangan panggungnya di televisi.
BBC bersikeras tetap “sepenuhnya berkomitmen pada sepak bola wanita”. Mereka menyebut sejumlah inisiatif sebagai bukti, mulai dari kanal YouTube khusus, program debat bertajuk The Women’s Football Fallout yang tayang eksklusif di BBC iPlayer, hingga ketersediaan cuplikan dan analisis di situs BBC Sport.
Semua ini merupakan bagian dari perpindahan besar dari televisi linear yang menurut BBC mencerminkan perubahan kebiasaan penonton. Namun pergeseran tersebut tentu tidak berjalan tanpa hambatan. Penonton yang terbiasa menonton melalui saluran konvensional harus beradaptasi dengan platform digital yang belum tentu mereka kuasai.
Eksperimen Format dan Batas Toleransi Penonton
Selama beberapa tahun terakhir, penyiar memang gencar bereksperimen dengan format, gaya, dan nada penyampaian. Disney+ bahkan sampai menghadirkan seekor anjing di studio sebagai bagian dari konsep acaranya. Tidak mengherankan jika tidak semua ide tersebut berhasil menarik perhatian atau diterima dengan baik oleh penonton.
Scott sendiri turut merintis jalannya sendiri di luar televisi konvensional. Musim ini ia meluncurkan program YouTube bertajuk One More Word WSL yang ia bawakan setiap Minggu malam bersama dua mantan pemain internasional Inggris, Anita Asante dan Fara Williams. Langkah itu menunjukkan bahwa presenter dan pundit kini bisa membangun ruang siaran sendiri tanpa bergantung pada penyiar besar.
Meski demikian, Dunn mengingatkan bahwa keberanian mengambil risiko harus tetap disertai fondasi yang kuat. Ia menilai inovasi dalam liputan olahraga wanita sebagai hal yang bagus, tetapi menyarankan agar penyiar memilih satu hal dan mengerjakannya dengan sangat baik. Menurutnya, prioritas utama tetaplah liputan pertandingan yang layak dan berkualitas.
Bagaimana Para Pelatih WSL Menyikapinya
Pelatih interim Aston Villa, Brian Sorensen, yang memulai karier kepelatihannya di Denmark pada 2009, menilai gelombang inovasi ini sebagai perkembangan positif. Menurutnya, banyak hal baik sedang terjadi, meski ada pula area baru yang belum pernah dicoba sebelumnya. Ia melihat proses ini sebagai bagian dari coba-coba untuk menemukan pendekatan yang paling tepat.
Sorensen bahkan memberikan perspektif yang cukup mencolok. Ia menyebut saat dirinya memulai karier, siaran langsung yang tersedia adalah yang terburuk yang pernah dilihat orang, dan kini kondisinya telah berkembang jauh. Perbandingan itu menegaskan bahwa kemajuan sepak bola wanita dalam hal penyiaran berlangsung sangat pesat.
Andree Jeglertz, pelatih Manchester City yang berstatus juara, sepakat dengan pandangan tersebut. Baginya, hal terpenting adalah tersedianya akses bagi penonton untuk menyaksikan pemain terbaik, baik di televisi maupun secara langsung. Ia menegaskan bahwa semakin banyak pertandingan yang bisa ditonton, semakin baik, apa pun bentuk penyajiannya.
Pelatih Tottenham, Martin Ho, menilai bahwa klub dan pemain tidak bisa mengendalikan keputusan mitra penyiaran. Menurutnya, apa pun yang diputuskan penyiar, pasti ada alasan di belakangnya. Yang bisa dilakukan klub adalah memastikan bahwa pertandingan yang disajikan benar-benar layak dinonton sebagai promosi terbaik bagi sepak bola wanita.
Sonia Bompastor dari Chelsea menawarkan sudut pandang yang lebih sabar. Ia mengingatkan bahwa setiap kali seseorang mencoba hal baru, akan selalu ada pihak yang senang dan pihak yang kecewa. Karena itu, ia menilai evaluasi perlu dilakukan dengan tenang sebab masih terlalu dini untuk menilai apakah sebuah pendekatan tepat atau tidak.
Apa Artinya bagi Masa Depan Liputan Sepak Bola Wanita
Kepergian Scott menjadi pengingat bahwa pertumbuhan popularitas tidak otomatis menghadirkan liputan yang matang. Lonjakan minat terhadap sepak bola wanita dalam lima tahun terakhir memang digerakkan oleh dua penyiar terbesar di Inggris, Sky Sports dan BBC. Namun ketika penyiar baru seperti Disney+ masuk ke kompetisi utama Eropa, ekspektasi penonton ikut melonjak dan toleransi terhadap kesalahan menyusut.
Bagi penyiar, kasus ini menunjukkan bahwa investasi finansial besar saja tidak cukup. Mereka perlu memahami siapa yang mereka layani, menyiapkan tim produksi yang mumpuni, dan menjaga standar teknis sejak pertandingan pertama. Kegagalan di momen-momen awal berisiko merusak kepercayaan penonton yang baru terbentuk.
Di sisi lain, para pemain dan pelatih tampaknya lebih memilih sikap lapang dada. Mereka melihat pertumbuhan audiens sebagai pencapaian besar dan menyerahkan urusan format kepada penyiar. Sikap ini wajar, tetapi juga menandakan bahwa klub memiliki ruang pengaruh yang terbatas dalam menentukan bagaimana produk mereka disajikan ke publik.
Ke depan, arah liputan sepak bola wanita tampaknya akan semakin bergerak ke platform digital. Pergeseran ini membuka peluang bagi wajah-wajah baru dan format yang lebih segar, termasuk lewat kanal mandiri seperti yang dirintis Scott. Namun sekaligus menuntut penyiar untuk lebih jeli dalam menimbang antara inovasi dan kualitas dasar penyiaran.
Kesimpulan
Kepergian Alex Scott dari liputan Liga Champions Wanita di Disney+ lebih dari sekadar kabar pergantian presenter. Peristiwa ini membuka tabir persoalan yang lebih dalam dalam liputan sepak bola wanita, mulai dari ketidakjelasan target penonton, keterbatasan anggaran, hingga pergeseran dari televisi linear ke platform digital. Kritik atas masalah teknis dan jeda iklan tak terjadwal di malam pembuka memperlihatkan bahwa standar produksi belum sepenuhnya sejalan dengan besarnya ambisi.
Di sisi lain, para pelatih WSL mengingatkan bahwa kemajuan yang dicapai dalam belasan tahun terakhir tetap luar biasa dan pantas diapresiasi. Tinggal sekarang bagaimana penyiar menyeimbangkan keberanian bereksperimen dengan kualitas penyajian pertandingan itu sendiri. Sebab pada akhirnya, penonton akan kembali bukan karena konsep acaranya, melainkan karena pertandingan yang disajikan dengan baik.