Georgia Stanway kembali menjadi sorotan setelah mencetak gol di kedua laga play-off kualifikasi Piala Dunia Wanita kontra Yunani. Gelandang berusia 27 tahun itu turut mengantar timnas wanita Inggris menang 5-0 di Leicester, sekaligus memastikan kelolosan ke babak kedua dengan agregat 8-1. Performa tersebut membuat pelatih Sarina Wiegman menyebutnya sebagai sosok “pejuang”.
Stanway memang bukan nama baru di lini tengah The Lionesses, tetapi kontribusinya dalam sepekan terakhir menunjukkan statusnya yang kian sentral. Ia mencetak gol pembuka saat Inggris menang 3-1 di Kreta, lalu kembali mencatatkan namanya di papan skor pada laga kedua. Statistiknya pun menonjol: 11 gol dalam 11 pertandingan terakhir bersama Inggris, sebuah capaian yang tidak biasa bagi seorang gelandang. Angka itu menegaskan bahwa kehadirannya bukan hanya soal kerja keras tanpa bola, melainkan juga ancaman nyata di depan gawang lawan.

Georgia Stanway dan Ketajaman di Dua Laga Play-off
Pada leg pertama di Kreta, Stanway membuka keunggulan Inggris di awal laga. Gol itu memberi fondasi bagi tim untuk mengendalikan pertandingan, dan The Lionesses akhirnya menutup laga dengan kemenangan 3-1. Meski Wiegman sempat mengkritik kurangnya ketajaman anak asuhnya di laga tersebut, Stanway termasuk pemain yang selalu terlihat berbahaya dan konsisten mengancam pertahanan Yunani.
Memasuki leg kedua di Leicester, Wiegman menuntut timnya bermain lebih ganas di depan gawang. Stanway menjawab permintaan itu dengan satu gol, sementara Alessia Russo dan Lauren James masing-masing mencetak dua gol dalam kemenangan 5-0. Kombinasi itu membuat Inggris menyelesaikan dua laga dengan agregat 8-1 tanpa memberi ruang bagi Yunani untuk bangkit.
Menariknya, Stanway hampir menambah koleksi golnya lewat sebuah penyelesaian yang nyaris sempurna. Ia mengontrol bola panjang di dalam kotak penalti dengan satu sentuhan halus, lalu melepaskan tembakan keras ke sudut bawah gawang. Namun, wasit menganulir gol tersebut karena offside, sebuah keputusan yang disebut Wiegman sangat mengecewakannya.
Naluri Menyerang yang Membuat Stanway Berbeda
Wiegman menilai ada satu hal yang membedakan Stanway dari pemain lain di skuadnya: orientasinya yang selalu mengarah ke gawang. Menurutnya, Stanway sangat agresif baik saat menguasai bola maupun ketika kehilangan bola, dan selalu berambisi menyerang. “Ia selalu ingin bergerak ke arah gawang. Ia punya ketangguhan itu di dalam dirinya,” ujar Wiegman ketika diminta mengomentari ketajaman anak asuhnya tersebut.
Pelatih asal Belanda itu juga menyoroti kualitas teknis Stanway pada momen gol yang dianulir. Ia menyebut kontrol bola atas umpan panjang Alex Greenwood sebagai contoh atletisisme dan ketenangan yang luar biasa, meski akhirnya tidak berbuah gol. Bagi Wiegman, sepak bola tidak hanya soal mencetak gol, tetapi juga soal mengisi ruang antar lini, menjaga penguasaan bola, dan membangun koneksi dengan rekan setim.
Mantan kiper Inggris, Rachel Brown-Finnis, melengkapi pujian tersebut dengan data. Ia mengatakan Stanway “nyaris tidak bisa dibendung” pada laga di Kreta, dengan catatan memenangkan seluruh duel, akurasi umpan 90 persen, empat tembakan, satu gol, dan satu gol lain yang dianulir. Brown-Finnis menambahkan bahwa Stanway punya sesuatu yang tidak dimiliki pemain lain, terutama karena kemampuannya berperan di banyak posisi sekaligus.
Eksperimen Taktik dan Peran Baru di Lini Tengah
Stanway tampil semakin efektif dalam komposisi lini tengah yang baru, termasuk kehadiran Lexi Potter yang menjalani debut pada usia 20 tahun. Gelandang Chelsea itu memberi perlindungan yang membuat Stanway dan Keira Walsh lebih leluasa naik ke depan, sementara Lauren James ditempatkan di posisi nomor 10. Perubahan ini terbukti menyulitkan Yunani sepanjang pertandingan dan Stanway mampu beradaptasi dengan baik.
Pada sebagian besar laga, Stanway bahkan bermain lebih melebar sebagai pemain sayap kanan setelah adanya perubahan di lini tengah. Brown-Finnis menyebut fleksibilitas itu sebagai salah satu kekuatan terbesar Stanway, baik ketika memutus serangan lawan di area pertahanan maupun saat menusuk ke area penyerangan. Ia menilai Stanway tampil sebagai penyerang kedua, melebar ke kanan, sekaligus turun ke belakang seperti seorang nomor 10.
Wiegman mengakui bahwa eksperimen ini punya beberapa tujuan sekaligus. Ia ingin melihat bagaimana Potter bermain lebih dalam, sekaligus menguji opsi menempatkan Stanway lebih tinggi di lapangan untuk menambah produktivitas gol. Ia juga menyebut bahwa persaingan di lini tengah Inggris saat ini sangat ketat, sehingga variasi formasi menjadi penting untuk menjaga kedalaman skuad.
Jalan Menuju Piala Dunia Wanita 2027
Meski tampil meyakinkan atas Yunani, Inggris belum sepenuhnya mengunci tiket ke Piala Dunia Wanita 2027 di Brasil. Mereka masih harus melewati babak play-off dua leg melawan Ukraina pada akhir tahun nanti. Sebelumnya, Inggris sudah pernah mengalahkan Ukraina dengan agregat 9-1 dalam dua pertandingan di fase liga kualifikasi, sebuah modal yang jelas menguntungkan secara psikologis.
Konteks pertandingan melawan Ukraina itulah yang membuat eksperimen taktik Wiegman terasa relevan. Jika formasi dengan Potter di posisi lebih dalam dan Stanway lebih maju kembali diterapkan, Inggris berpotensi tampil lebih agresif di laga-laga kunci. Hal itu sekaligus memunculkan pertanyaan menarik: apakah susunan ini akan menjadi opsi jangka panjang yang mengeluarkan versi terbaik dari Stanway maupun pemain lain di lini tengah?
Di level individu, ketajaman Stanway juga menempatkannya di jajaran teratas pemain Eropa dengan jumlah gol terbanyak di sepak bola internasional sejak Euro 2025. Catatan 11 gol dalam 11 laga terakhir bersama Inggris menunjukkan konsistensi yang jarang dimiliki seorang gelandang. Selama tren ini bertahan, ia akan terus menjadi andalan utama Inggris di lini tengah sekaligus ancaman serius bagi pertahanan lawan.
Dengan kombinasi ketenangan di depan gawang, ketangguhan dalam duel, dan kemampuan beradaptasi pada berbagai posisi, Stanway telah menjelma menjadi figur yang sulit digantikan. Sebutan “pejuang” dari Wiegman pun terdengar bukan sekadar pujian, melainkan gambaran akurat tentang cara ia bermain. Jika Inggris ingin melangkah jauh di Piala Dunia Wanita 2027, menjaga performa Stanway tetap di level seperti sekarang akan menjadi salah satu kunci utamanya.