Perdebatan tentang siapa manajer terbaik Premier League sepanjang sejarah selalu menarik untuk diikuti. Sejak kompetisi ini dimulai pada 1992, hanya empat manajer yang mampu memenangkan lebih dari satu gelar juara. Dengan hitungan matematika sederhana, nama-nama besar seperti Sir Alex Ferguson dan Pep Guardiola jelas akan mendominasi daftar teratas, tetapi persaingan di posisi lainnya tetap layak diperbincangkan.
Artikel ini mencoba merangking para manajer terbaik Premier League berdasarkan gelar juara, jumlah kemenangan, konsistensi, dan pengaruh mereka terhadap sepak bola Inggris. Lebih dari sekadar statistik, beberapa manajer juga diukur dari cara mereka mengubah lanskap kompetisi. Berikut ulasan lengkapnya, dari peringkat kesepuluh hingga yang terbaik sepanjang sejarah.
Kriteria Penilaian Manajer Terbaik Premier League
Gelar juara memang menjadi indikator utama dalam menilai seorang manajer, tetapi faktor lain seperti lama berkarier juga tidak bisa diabaikan. David Moyes, misalnya, mencatatkan 755 pertandingan di bangku cadangan Premier League, hanya kalah dari Arsene Wenger dengan 828 laga dan Sir Alex Ferguson dengan 810 laga. Catatan tersebut menempatkan Moyes sebagai salah satu pelatih paling tangguh dalam hal konsistensi.
Moyes juga memiliki kemenangan terbanyak ketiga dalam sejarah Premier League dengan 291 kemenangan selama menangani Everton, Manchester United, Sunderland, dan West Ham. Capaiannya itu masih jauh di bawah Wenger yang mengoleksi 476 kemenangan bersama Arsenal dan Ferguson dengan 528 kemenangan di United. Menariknya, Pep Guardiola berada tidak jauh dari catatan Moyes meski baru menangani sekitar separuh jumlah pertandingan.
Harry Redknapp menempati urutan keempat dalam jumlah pertandingan dengan 641 laga, kelima dalam kemenangan dengan 236, serta masuk lima besar untuk gol yang dicetak timnya dengan total 818 gol. Sementara itu, Mauricio Pochettino layak disebut karena menjadi satu-satunya manajer dengan lebih dari 100 pertandingan yang belum pernah meraih gelar tetapi menang lebih dari separuh laga yang dijalaninya. Pochettino yang pernah menangani Southampton, Tottenham, dan Chelsea itu membawa Spurs finis kedua terbaik dalam sejarah Premier League pada musim 2016-17.
Beberapa kriteria utama yang digunakan dalam peringkat ini meliputi:
- Gelar juara Premier League sebagai syarat utama
- Jumlah kemenangan dan rata-rata poin per pertandingan
- Konsistensi dan lama berkarier di kompetisi ini
- Pengaruh terhadap gaya bermain dan wajah sepak bola Inggris
Posisi 10-8: Ancelotti, Arteta, dan Mancini
Untuk masuk daftar ini, syarat utamanya adalah pernah memenangkan Premier League. Dari 13 manajer yang berhasil melakukannya, tiga nama harus tersingkir, yaitu Arne Slot, Manuel Pellegrini, dan Antonio Conte. Pellegrini sebenarnya mencatat rata-rata 1,92 gol per pertandingan yang menempatkannya di peringkat kelima di antara manajer dengan minimal 100 laga, tetapi masa sulitnya di West Ham menjadi faktor penghambat.
10. Carlo Ancelotti — Juara 2009-10
Carlo Ancelotti telah membawa AC Milan, Bayern Munich, Paris St-Germain, Real Madrid, dan Chelsea meraih gelar domestik, ditambah lima trofi Liga Champions yang mengukuhkannya sebagai salah satu pelatih terbaik dunia. Namun, masa baktinya di Inggris terbilang singkat. Pelatih asal Italia itu langsung merebut gelar Premier League di musim pertamanya bersama Chelsea.
Sayangnya, setelah merekrut Fernando Torres dengan rekor transfer Inggris kala itu, Ancelotti justru didepak pada musim keduanya setelah Chelsea finis sebagai runner-up. Ia sempat kembali ke Inggris untuk menangani Everton dan memberikan dua kali finis papan tengah. Namun, begitu Real Madrid memanggil, ia pun segera hengkang meninggalkan Goodison Park.
9. Mikel Arteta — Juara 2025-26
Pada awal tahun ini, Mikel Arteta menjadi manajer ke-13 yang memenangkan Premier League serta pelatih Arsenal pertama yang melakukannya sejak Arsene Wenger pada 2004. Ia juga memutus dominasi delapan tahun gelar yang bergantian diraih Manchester City dan Liverpool. Arteta berhasil membungkam kritik terhadap gaya bermain Arsenal yang dianggap terlalu keras serta tudingan bahwa timnya hanya akan menjadi runner-up selamanya.
Sebagai satu-satunya manajer Premier League aktif yang pernah merasakan gelar juara, Arteta kini berada dalam posisi yang sangat kuat. Dengan Arsenal yang terus menambah amunisi ke skuad yang sudah padat pada musim panas ini, bukan tidak mungkin mantan playmaker asal Spanyol itu akan merangkak naik dalam daftar ini di masa depan.
8. Roberto Mancini — Juara 2011-12
“Agueroooo!” Momen itu menjadi salah satu akhir musim paling dramatis dalam sejarah Premier League. Dua gol di waktu tambahan, termasuk gol kemenangan di menit ke-94, mengantar Manchester City meraih gelar pertama mereka dalam lebih dari 40 tahun sekaligus menyingkirkan rival bebuyutan, Manchester United. Tidak ada gelar juara yang lebih menegangkan dari itu.
Roberto Mancini memulai era baru City yang mewah dengan memenangkan Piala FA di musim penuh pertamanya setelah menggantikan Mark Hughes pada Desember 2009. Ia kemudian menambahkan gelar liga sebelum akhirnya dipecat pada musim panas berikutnya. Catatannya tetap impresif: peringkat keempat dalam poin per pertandingan untuk manajer dengan minimal 100 laga, unggul atas Conte dan Jose Mourinho, serta timnya mencatat rekor kebobolan paling sedikit dengan rata-rata 0,83 gol per laga.
Posisi 7-5: Dalglish, Ranieri, dan Klopp
Zona lima besar mulai dihuni oleh manajer-manajer dengan kisah yang sangat beragam. Ada yang sukses berkat dukungan dana besar dari pemilik klub, ada pula yang menciptakan keajaiban yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Berikut ulasan ketiganya.
7. Kenny Dalglish — Juara 1994-95
Kenny Dalglish meraih kesuksesan terbesarnya di Liverpool sebelum era Premier League dengan tiga gelar dalam empat musim, awalnya sebagai pemain-manajer. Setelah hengkang pada Februari 1991, ia bergabung dengan Blackburn Rovers yang saat itu masih berada di divisi kedua dan langsung membawa mereka promosi melalui play-off. Dengan sokongan dana dari pengusaha lokal Jack Walker, Blackburn merekrut Alan Shearer dari Southampton dengan rekor transfer Inggris sebesar £3,6 juta.
Blackburn finis keempat dan kedua sebelum akhirnya mengalahkan Manchester United untuk merebut gelar juara pada 1995. Itu menjadikan Dalglish manajer keempat yang sukses menjuarai kasta tertinggi Inggris dengan dua klub berbeda. Ia gagal mengulangi prestasi serupa di Newcastle, meski membawa mereka menjadi runner-up di liga dan Piala FA, sementara kembalinya ke Liverpool pada 2012 hanya dihiasi gelar Piala Liga.
6. Claudio Ranieri — Juara 2015-16
Dilly ding, dilly dong! Ranieri masuk peringkat keenam berkat kisah yang sulit dipercaya: Leicester City menjuarai Premier League dengan odds 5.000 banding 1 pada musim 2015-16. Ia mengubah skuad yang dianggap sekumpulan pemain buangan menjadi tim yang tampil konsisten dan keluar sebagai juara. Prestasi itu saja sudah cukup untuk mengamankan tempatnya dalam daftar ini.
Padahal, lebih dari satu dekade sebelumnya, Ranieri hampir merasakan gelar juara bersama Chelsea. Dibekali dana belanja pertama Roman Abramovich, ia membawa The Blues finis kedua pada 2004, hanya di belakang Arsenal yang musim itu tampil sempurna tanpa kekalahan. Chelsea seharusnya juga bisa melaju ke final Liga Champions, tetapi tersingkir di semifinal oleh Monaco, momen yang kelak menjadi titik balik bagi penggantinya, Jose Mourinho.
5. Jurgen Klopp — Juara 2019-20
Jurgen Klopp dalam beberapa hal mirip dengan Andy Murray di dunia tenis: penuh aksi, berenergi tinggi, dipuja penggemar, tetapi kerap tersiksa saat berada di bawah tekanan. Ia meraih kesuksesan luar biasa, tetapi mungkin akan lebih mendominasi andai tidak ada lawan generasional yang menghadang. Dalam perumpamaan yang agak dipaksakan ini, Manchester City adalah Roger Federer, Rafael Nadal, dan Novak Djokovic milik Klopp.
Andai bukan karena rival asal Katalonia di M62 itu, Liverpool racikan Klopp bisa menjadi tim terbaik di era Premier League. The Reds tercatat tiga kali mengumpulkan lebih dari 90 poin, tetapi hanya sekali meraih gelar, yaitu pada musim 2019-20. Gelar itu tetap bersejarah karena menjadi yang pertama bagi Liverpool dalam 30 tahun dan yang pertama di era Premier League.
Posisi 4-2: Mourinho, Wenger, dan Guardiola
Tiga nama berikut ini adalah manajer yang tidak hanya memenangkan gelar, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap sepak bola Inggris. Masing-masing memiliki jejak yang dalam dan gaya khas yang sulit ditiru oleh generasi setelahnya. Berikut ulasannya.
4. Jose Mourinho — Juara 2004-05, 2005-06, dan 2014-15
Jose Mourinho mendarat di Chelsea beberapa hari setelah membawa Porto menjuarai Liga Champions dan langsung menyebut dirinya sebagai “The Special One”. Dengan dukungan pemain-pemain anyar, ia memenangkan gelar di musim pertamanya, di mana Chelsea unggul 12 poin dan hanya kebobolan 15 gol, sekaligus mengganggu kenyamanan Wenger dan Ferguson. Ia mengulang sukses tersebut di musim keduanya sebelum hubungannya mulai retak dan ia hengkang pada September 2007.
Mourinho kembali enam tahun kemudian setelah meraih gelar di Milan dan Madrid, lalu memenangkan gelar Premier League ketiganya di musim keduanya bersama Chelsea. Namun, ia pergi lagi sebelum Natal di musim berikutnya. Kiprahnya di Manchester United dan Tottenham memang tetap menghibur, tetapi tidak pernah mendekati kesuksesannya di London barat daya.
3. Arsene Wenger — Juara 1997-98, 2001-02, dan 2003-04
Selisih antara Wenger dan Mourinho memang tipis, karena keduanya sama-sama membuka era baru di Premier League. Mourinho pernah menyebut Wenger sebagai “spesialis kegagalan”, tetapi dalam daftar ini pria asal Prancis itu unggul berkat satu musim tak terkalahkan. Itu adalah satu-satunya musim tanpa kekalahan dalam sejarah Premier League, yang dikenal dengan julukan The Invincibles.
Wenger yang datang dari klub Jepang Nagoya Grampus Eight sempat dianggap pilihan aneh, tetapi ia berhasil memodernisasi Arsenal dan membawa mereka meraih gelar pada 1998, 2002, dan puncaknya musim 2003-04. Meski gagal menambah gelar liga dalam 14 tahun berikutnya, tim Arsenal yang ia bangun pada dekade pertamanya tetap dikenang sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah Premier League.
2. Pep Guardiola — Juara 2017-18, 2018-19, 2020-21, 2021-22, 2022-23, dan 2023-24
Bicara soal manajer yang mengubah wajah sepak bola Inggris, tidak ada yang pengaruhnya sebesar Pep Guardiola, mulai dari level elite hingga akar rumput. Gaya bermain yang ia kembangkan di Barcelona terbukti mampu mengubah cara bermain di seluruh lapisan kompetisi Inggris. Bahkan, para kiper di liga amatir pun ikut terpengaruh untuk berani memainkan bola dari belakang.
Guardiola memang mendapat dukungan besar di bursa transfer, tetapi Manchester City-nya memenangkan gelar dengan tingkat yang luar biasa. City menjadi tim Inggris pertama yang meraih empat gelar beruntun, total enam gelar dalam satu dekade, serta mengumpulkan 100 poin pada musim 2018. Semua itu menjadikannya kandidat kuat di puncak daftar, tetapi masih ada satu nama yang sulit digeser.
Sir Alex Ferguson: Manajer Premier League Terbaik Sepanjang Masa
Dua dekade pertama Premier League didominasi oleh satu orang, yaitu Sir Alex Ferguson. Ia memenangkan 13 gelar dan terus membangun ulang timnya untuk menjaga Manchester United di puncak sepak bola Inggris. Dari era Eric Cantona hingga treble 1999, kemudian trio Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, dan Carlos Tevez, Ferguson selalu punya resep untuk bangkit kembali.
Bahkan setelah Ronaldo hengkang ke Real Madrid pada 2009 dan Tevez pindah ke kubu Manchester City, Ferguson tetap memenangkan gelar hingga pensiun pada 2013. Rekor 13 gelarnya lebih dari dua kali lipat dibandingkan manajer mana pun dalam sejarah kasta tertinggi sepak bola Inggris. Guardiola, Bob Paisley dari Liverpool, dan George Ramsay dari Aston Villa berada di posisi berikutnya dengan masing-masing enam gelar, yang menunjukkan betapa sulitnya menyaingi pencapaian Fergie.
