Carlo Ancelotti Ubah Brasil Jadi Calon Juara Piala Dunia

Kekacauan Sebelum Kedatangan Carlo Ancelotti

Timnas Brasil tiba di Piala Dunia dengan banyak luka. Sejak turnamen di Qatar 2022, terjadi empat kali pergantian pelatih, 95 pemain dipanggil, dan krisis politik termasuk pemberhentian presiden Konfederasi Sepak Bola Brasil (CBF). Situasi ini menimbulkan banyak ketidakpastian dan membuat para penggemar pesimistis. Namun, kemudian Carlo Ancelotti datang.

Transformasi Bersama Pelatih Asal Italia

Secara bertahap, Carlo Ancelotti membentuk tim dan mengubah hubungan dengan penggemar. Kini pendukung Brasil kembali bermimpi meraih titel Piala Dunia keenam, setelah 24 tahun tanpa gelar—masa paceklik terpanjang bersama periode antara 1970 dan 1994. Sang pelatih menjadi perisai bagi para pemain. Bahkan pemain senior seperti Alisson, Danilo, Marquinhos, dan Casemiro merasa lebih nyaman dengan sosok besar ini di bangku cadangan. Ancelotti adalah pelatih paling sukses di Liga Champions dengan lima gelar.

Pernyataan Pemain Soal Pengaruh Ancelotti

“Tidak bisa dimungkiri siklus Piala Dunia ini sangat sulit bagi kami,” ujar Alisson, yang tampil di Piala Dunia ketiganya. “Sejak kedatangan Ancelotti, atmosfer berubah total. Dia memberi ketenangan pikiran yang muncul dari lingkungan kerja yang fokus, tanpa harus khawatir dengan kontroversi atau masalah lain.”

Marquinhos menambahkan, “Tim kami sedang tidak dalam performa terbaik, tapi Ancelotti melakukan perubahan yang diperlukan. Dia sangat pintar, tahu cara mengeluarkan potensi terbaik pemain dan membantu mereka berkembang. Dia mengubah pola pikir kami dan menciptakan filosofi yang berpusat pada kesejahteraan.”

Penyembuhan Luka Lama: Kemenangan atas Jepang

Kemenangan atas Jepang di babak 32 besar adalah luka lain yang berhasil disembuhkan Ancelotti. Sebelumnya, kebobolan gol di babak pertama bisa membuat Brasil goyah. Sejak 2023, Brasil kebobolan lebih dulu dalam 12 pertandingan, kalah tujuh kali dan imbang empat kali. Hal itu terjadi lagi saat melawan Chili di kualifikasi Piala Dunia Oktober 2024.

Gol Keishu Sano menjadi pukulan berat. Kegelisahan Brasil terlihat jelas. Tapi Carlo Ancelotti membalikkan suasana. Ia memanfaatkan jeda turun minum dengan berbicara kepada pemain secara mengejutkan. Gabriel Martinelli, pencetak gol kemenangan, berkata kepada CazeTV, “Ancelotti adalah pria luar biasa. Bahasa tubuhnya menunjukkan ketenangan luar biasa, dan dia menularkan rasa percaya diri itu kepada kami.”

Keputusan Berani: Neymar Dicadangkan

Ancelotti tidak takut mengambil keputusan penting, seperti meninggalkan Neymar dari susunan pemain utama. Neymar yang berusia 34 tahun sudah bukan pemain seperti dulu, dan tidak sepenuhnya fit. Pelatih lain yang kurang berpengalaman mungkin tetap memainkannya, tapi Ancelotti berani. Neymar hanya bermain 14 menit di Piala Dunia ini, saat melawan Skotlandia, dan tidak tampil melawan Jepang. Neymar sendiri memahami perannya. Ia sadar bukan lagi pemain terpenting Brasil—status itu kini milik Vinícius Júnior.

Sentuhan Psikologis untuk Mental Pemain

Manajemen pemain ala Ancelotti selalu menjadikannya pelatih ideal untuk Seleção. Ia menekankan bahwa Brasil tidak kekurangan bakat, tapi itu tidak cukup untuk memenangkan Piala Dunia. Karena itu, selain asisten Paul Clement, Francesco Mauri, dan putranya Davide Ancelotti, ia juga mengandalkan keahlian Marisa Santiago, psikolog pertama yang menjadi bagian dari staf pelatih Brasil di Piala Dunia. Ancelotti berbicara dengan Santiago setiap hari dan meminta saran untuk mengelola mental pemain. Santiago juga berbicara langsung dengan pemain untuk menciptakan atmosfer terbaik.

Tantangan Terakhir: Menghadapi Norwegia

Melawan Norwegia, Ancelotti dihadapkan pada tugas menyembuhkan luka terdalam. Sejak mengalahkan Jerman di final Yokohama 2002, Brasil belum pernah mengalahkan tim Eropa di partai knockout Piala Dunia. Mereka kalah dari Prancis (2006), Belanda (2010), Jerman (2014), Belgia (2018), dan Kroasia (2022). Selain harus meredam Erling Haaland, Carlo Ancelotti perlu kembali bekerja secara mental untuk memastikan mimpi buruk lima Piala Dunia terakhir tidak terulang.

Jika Brasil menang pada hari Minggu, mereka mungkin belum dianggap favorit juara oleh banyak pihak, tapi akan dipandang dengan cara baru. Orang-orang akan percaya bahwa sudah saatnya mengakhiri penantian panjang untuk meraih trofi terbesar sepak bola.